Sabtu, 05 September 2015

Backpacking di Paris : Menyusuri Jejak Robert Langdon

Transportasi Amsterdam – Paris

Untuk pergi ke Paris, saya naik bis Eurolines (bis antar-negaranya Eropa). Tiket pulang pergi saya booking sekitar 2 minggu sebelum berangkat ke Belanda (alias satu setengah bulan sebelum saya ke Paris). Karena rentang waktunya masih lumayan lama, Alhamdulillah saya dapat lumayan murah, 41 Euro untuk tiket Pulang-Pergi nett. Saya pesan via situs eurolines.nl . Btw, situs eurolines ini tiap negara punya masing-masing. Contoh, di Perancis alamat situsnya adalah eurolines.fr . Cuma beda dot, tetapi harga yang ditawarkan bisa lumayan jauh berbeda ternyata . Waktu saya ngecek, di dot fr itu hampir satu setengah kali lipatnya yang di dot nl . Emang kudu rajin-rajin mbandingin kalau mau cari tiket paling murah, hehe. Sistem pembayarannya cuma bisa pakai kartu kredit. Berhubung saya gak punya, jadi nebeng punya teman.

Backpackeran ke Paris cuma bawa tas tangan kecil. Koper dan barang bawaan lain saya titipin semua di Bandara Schiphol biar nggak ribet (untuk sewa locker di sana, biayanya 7,5 Euro per locker per 24 jam). 


Dari Amsterdam, bis Eurolines berangkat pukul 23.00. Terminal keberangkatannya ada tepat di depan stasiun kereta Amsterdam Duivendrecht. Bisnya lumayan nyaman. Reclining seat, Full-AC (untuk perjalanan malam ini sebenarnya mengurangi kenyamanan karena AC-nya dingin banget), sabuk pengaman, toilet, serta ada kantong plastik bersih untuk tempat sampah di masing-masing kursi penumpang. Tidak ada fasilitas wifi di bis.

Perjalanan Amsterdam-Paris kurang lebih 7 jam. Jadi saya sampai di Paris sekitar pukul 6 pagi. Waktu yang pas banget untuk saya yang bepergian sendiri karena saat itu matahari sudah lumayan terang :D .

Dari Gallieni ke Pusat Kota Paris

Terminal pemberhentian Eurolines di Paris terletak di wilayah Gallieni. Sama seperti di Amsterdam, di Paris ini terminal Eurolines juga terintegrasi dengan stasiun kereta bawah tanahnya (tram). Jadi, begitu kita keluar counter terminal, kita langsung disambut stasiun tram .

Kalau di Belanda saya memakai aplikasi 9292 untuk memandu transportasi, maka di Paris saya memakai aplikasi RATP (bisa didownload gratis di playstore). Cara kerjanya sama. Masukkan tujuan kita, dan taraaa, langsung muncul sarana transportasi apa yang harus kita gunakan untuk menuju ke sana, lengkap dengan jarak, perkiraan waktu tempuh, serta biayanya.

Dari Gallieni ke Pusat Kota Paris, saya naik tram line 3 . Tiketnya beli di mesin tiket otomatis yang ada di stasiun. Untuk 1 tiket harganya 1,8 Euro . Sedikit saran, kalau sudah punya itinerary detail sebaiknya beli tiketnya sekalian saja di sini, biar gak repot ngantri tiap kali mau naik tram ataupun bis. Kalau belinya sampai 10 tiket itu bisa lebih murah, cuma 14,1 Euro . Atau, bisa juga beli daypass namanya Paris Visit (tiket yang berlaku seharian, tetapi hanya di jalur 1-3) seharga 12,3 Euro . Kalau saya waktu itu cuma beli 1 tiket RATP untuk menuju pusat kota Paris saja, karena planning awal mau eksplore objek wisatanya pakai Batobus. Apa itu Batobus? Next, pembahasannya di bawah yaa :) .

Tiket RATP : Welcome to Paris!


Objek-Objek Wisata yang Dikunjungi

Saya turun dari tram di Stasiun Opera. Begitu keluar dari stasiun langsung disambut bangunan megah Academie Nationale de Musique yang lebih dikenal dengan sebutan Opera. Langsung kelihatan banget sih, dibanding Belanda, arsitektur di kota Paris tuh lebih glamour, lebih mewah. Detail ornamennya kebanyakan memakain nuansa emas. Ukiran-ukirannya detaaaaaiiil banget, dan khas bangunan Eropa kebanyakan ukirannya berbentuk objek manusia yang analisis sotoy saya sih (hahaha) sepertinya berbau-bau religius juga. Di Opera sering digelar pertunjukan musik, terutama musik klasik. Saya di sini cuma foto-foto sebentar, lalu lanjut jalan mencari counter Batobus.

Jadi, Batobus adalah semacam kapal pesiar (well, tentu tidak semewah ala-ala royal cruise) yang berlayar di Sungai Seine. Rutenya melewati objek-objek wisata utama di kota Paris. Di tiap objek wisata kita boleh turun, dan asyiknya nggak ditungguin sama si Batobus ini. Jadi kita bisa bebas eksplore objek itu dalam jangka waktu suka-suka kita. Nah, kalau mau lanjut ke objek wisata berikutnya, kita tinggal tunggu Batobus berikutnya datang dan kita bisa naik tanpa harus membayar lagi karena tiketnya berlaku sehari penuh :D . Harga tiketnya 16 Euro per orang.

Karena counter Batobus ada di dekat Sungai Seine, maka dari Opera saya berjalan kaki mengikuti peta menuju Sungai Seine. Eh, belum kelihatan Sungai Seine-nya udah ketemu sama objek wisata pertama, tugu Luxor Obelisk. Sebelah kiri tugu Obelisk udah kelihatan Palais Jardin, yang di dalamnya ada Museum Louvre. Terus, masih dari tempat berdiri yang sama, si Nyonya Besar a.k.a Menara Eiffel udah kelihatan menjulang gagah. Arah 180 derajat dari Obelisk, berlawanan dengan Museum Louvre, kelihatan pula Champ Elysess yang di ujungnya ada Arc De Triomphe. Ya ampuuuun, ini mah objek wisatanya bener-bener ngumpul banget. Akhirnya, saya memutuskan untuk batal naik batobus karena sepertinya lebih asyik jalan kaki. Selain nggak usah buang-buang Euro dan udah bosen juga naik perahu-perahu begitu selama di Belanda, di sekitar situ juga banyaaak banget bangunan-bangunan lain yang sayang kalau dilewatkan.

Btw, alasan utama saya ke Paris itu bukan karena terpesona sisi romantisnya kota ini, tetapi karena kepincut sama petualangannya Robert Langdon di buku The Da Vinci Code-nya Dan Brown, hehehe. Jadi, objek wisata yang saya kunjungi ya kurang lebih seperti menapaktilasi jejak Robert Langdon. Saya nyontek itinerary-nya dari sini. Ketika udah sampai di Paris, itinerary itu banyak yang saya modif disesuaiin sama kondisi di lapangan. Jadi, objek-objek yang saya kunjungi lengkapnya seperti ini :

1.   Galeri St. Lazare : Katanya sih ini stasiun kereta tertua di Paris. Kalo menurut saya sih bangunannya biasa aja hehehe. Lebih cantikan Amsterdam Centraal. Dari Opera ke St. Lazare jalan kaki hanya sekitar 10 menit. Saya ke sini masih pagiii banget tapi orang-orang Paris udah banyak yang duduk santai di halaman stasiunnya, menikmati sarapan mungkin sambil menunggu kereta untuk berangkat kerja. 

2.   Place de La Concorde : Ini adalah plaza alias alun-alun utama di kota Paris, berjarak sekitar 15 menit jalan kaki dari St. Lazare. Kalau masih ingat, di pelajaran sejarah kan kita ada materi tentang Revolusi Perancis di mana saat itu Raja Louis XVI dipenggal kepalanya. Nah, lokasi pemenggalannya ya di plaza ini, tapi bekasnya udah nggak kelihatan sih. Sejauh yang saya lihat, nggak ada monumen atau apapun yang menunjukkan eksekusi itu pernah terjadi. Yang ada di sini malah Luxor Obelisk. Luxor Obelisk ini dulunya ada di Mesir, tepatnya di depan kuil Luxor, kemudian dipindahkan ke Paris sebagai hadiah dari Muhammad Ali Pasha kepada pemerintahan Perancis saat itu . Tidak terlalu tinggi, tetapi bagian puncaknya cukup cantik karena terbuat dari emas. Btw, bagian puncak ini udah nggak asli lho karena yang asli katanya sih dicuri. Obelisk ini semacam patokan buat saya menemukan lokasi Museum Louvre. Kalo udah sampai obelisk, tinggal tengok ke Timur, di situlah Museum Louvre.



3.       Palais Jardin : Akses masuk ke Museum Louvre dari Obelisk harus melewati Palais Jardin, yang secara literal artinya Taman Istana. Tamannya beeesaaar banget dan memang layak menyandang status taman istana karena tertata apik. Di taman ini beneran ada pohon perdu berbentuk lorong, yang kalau di bukunya Dan Brown itu dipakai oleh Robert Langdon untuk melarikan diri dari kejaran musuhnya. Tinggi pohon perdunya memang rasional untuk dilewati orang dewasa. Dalam hati saya, imajinasi seorang Penulis tuh emang tingkat tinggi banget ya. Kalo saya ngelihat pohon perdu begitu sih nggak bakal kepikiran untuk dijadiin setting sarana melarikan diri, paling banter ya jadi tempat foto-foto, wkwkwk.




Di dalam taman ini juga ada wahana-wahana bermain seperti di Dufan, tetapi jenis permainannya tidak terlalu banyak. Saya nggak ke arah sana sih jadi kurang tahu ada apa saja dan harga tiketnya berapa. 
Keluar dari Palais Jardin, kita di sambut miniaturnya Arc De Triomphe yang namanya L'Arc Du Caroussel.





4.     Museum Louvre : Salah satu mesum seni terbesar di dunia yang menjadi titik awal dalam cerita Da Vinci Code. Katanya sih, kalau mau mengunjungi Louvre dari sudut ke sudut, butuh waktu lebih dari 1 hari. Di sini dipajang karya-karya seniman terkenal. Masterpiece-nya tentu saja lukisan Monalisa karya Leonardo Da Vinci . Harga tiket masuknya nggak terlalu mahal, tepatnya berapa saya lupa, tetapi hanya kisaran belasan Euro koq. Untuk yang tidak ingin  masuk ke dalam museum, bisa foto-foto di depannya saja. Spot terfavorit dan nggak boleh dilewatkan untuk foto adalah Piramida Du Louvre . Di sekeliling piramida ini ada kolam lengkap dengan air mancur-air mancur kecil. Sayaaang banget pas saya ke sana, kolamnya lagi direnovasi, jadi piramidanya kelihatan kayak kaca biasa aja.

Pyramide Du Louvre

Salah satu sayap Museum Louvre

Museum Louvre dari kejauhan


5.   Musee de l'Armee : Iseng aja sih ke sini karena letaknya nggak jauh dari Plaza Concorde. Tiket masuk ke museum ini gratis. Di bagian depan museum ada parit lumayan lebar yang dulunya berfungsi sebagai benteng. Bangunan museumnya mirip kastil, dengan kubah emas yang bikin museum ini kelihatan mewah banget. Di gerbang masuknya, ada pos pemeriksaan yang dijaga tentara beneran, dan tas kita di-scanning dulu sebelum masuk.

Musee de l'Armee dari jauh

6.    Petit Palais dan Grand Palais : Secara literal artinya Istana Kecil dan Istana Besar, tetapi ini sama sekali tidak pernah dipergunakan sebagai istana kerajaan, karena sejak dibangun memang diperuntukkan sebagai museum. Letaknya berseberangan, dan tiket masuknya gratis untuk koleksi-koleksi yang tetapnya. Kalau mau liat pameran yang temporer baru dikenakan biaya. Nggak tahu kenapa, saya malah lupa ambil foto di sini -,- .

7.     Sungai Seine : sungai yang lumayan besar, dipakai aktif untuk transportasi, dan jauh lebih jernih dibanding kanal-kanal di Amsterdam, Belanda. Mungkin karena ini sungai alami ya, jadi sirkulasi airnya lebih baik dibanding kanal yang hanya buatan. Dari sini, Menara Eiffel juga kelihatan jelas.


Ilusi Optik :D



Jembatan utama sungai Seine

8.      Menara Eiffel : walaupun gak disebut-sebut di buku Dan Brown, tetapi nggak afdhol dong kalau ke Paris tanpa menengok si Nyonya Besar yang satu ini. Letaknya nggak jauh dari Sungai Seine. Saya nggak mencoba naik ke atas menaranya, hanya berkeliling di tamannya aja.






9.     Champ Elysees : nama jalan di Paris yang terkenal karena di sini berdiri toko-toko milk merk-merk ultra-premium. Mulai dari produk fashion sampai produk otomotif. Awalnya saya pikir trotoar jalan ini dilapisi marmer dan banyak supermodel berlalu lalang dengan hak di atas 10 cm, wkwkwk, ternyata sama kayak trotoar biasa bahkan banyak pengemis juga di sini. Masing-masing toko di sini juga nggak terlalu besar sih, desain arsitektur bangunannya juga nggak terlalu menonjol. Saya aja awalnya nggak sadar itu adalah Champ Elysees kalau nggak melihat merk-merk yang terdisplay di kaca depan tokonya. Di sini saya nggak masuk ke toko Hermes, Furla, atau L&V koq. Saya lebih kepincut cuci mata di toko merchandise-nya Disney :P .

10.  Arc de Triomphe : Ini letaknya di ujuuung jalan Champ Elysess. Terpisah lumayan jauh dari objek wisata lainnya. Objek wisata ini berbentuk gerbang, yang dibuat untuk merayakan kemenangan Napoleon Bonaparte. Di alun-alun Kediri Jawa Timur, ada juga replika bangunan ini. Dua tahun lalu kebetulan saya ke sana, kulineran pecel tumpang di kaki replika Arc De Triomphe, tanpa ada bayangan bahwa dalam waktu dekat saya bisa melihat bentuk aslinya. Rezeki itu memang benar-benar nggak bisa diterka ya :’) .

Arc De Triomphe, Paris

Kaki replika yang di Kediri. Ubek-ubek foto lama, nemunya cuma yang ini :D

11. Love Bridge : salah satu jembatan kecil di sungai Seine ada yang dipenuhi dengan gembok-gembok bertuliskan nama para pasangan. Mitosnya, biar hubungannya abadi. Kamu percaya? Silahkan datang ke sini dan pasang gembok bertuliskan namamu dan pasanganmu. Gembok-gembok itu bikin jembatan ini jadi agak kumuh sih. Tapi nyatanya, ini jadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.




Itulah dia 11 objek wisata yang saya kunjungi. Nggak semua jejaknya Robert Langdon berhasil saya napak tilasi ternyata, tapi seneeeng banget. Nggak kerasa, tahu-tahu waktu udah sore dan saya harus mengakhiri day trip di Paris ini. 

Tips dan Kesan-Kesan Lain
1.       Jalan kaki di kota Paris jauh lebih nyaman dibanding di Amsterdam. Faktor pertama, karena jalan raya di Paris hanya dilewati oleh mobil dan motor, sedangkan tram ada di bawah tanah. Di Amsterdam, jalan raya tuh tumplek blek mulai dari sepeda, mobil, motor, sampai tram. Walaupun masing-masing memang ada jalurnya, tetapi tetap aja saya merasa ruwet tiap kali ke Amsterdam. Beda dengan di Paris. Faktor kedua, Paris sama dengan di Indonesia, menggunakan setir kanan. Lho apa pengaruhnya? Buat saya pengaruh banget hehehe. Karena saya udah refleks tiap kali jalan kaki pasti di sebelah kiri. Selama di Belanda, saya suka baru nyadar di pertengahan jalan kalau saya jalan kaki di trotoar yang berlawanan arah dengan orang-orang lainnya hahaha. Tiap mau nyeberang jalan, suka agak kagok juga kalau di Belanda, terutama di jalan-jalan kecil yang nggak ada lampu merah pejalan kaki-nya, karena biasa di Indonesia nengok kanan, di sana harus nengok kiri. Kalau di Paris, sama persis dengan di Indonesia jadi lebih terbiasa.
2.       Orang Paris aksen bahasa Inggrisnya agak susah ditangkap dibanding orang Belanda. Dan nggak semua orang Paris lancar berbahasa Inggris. Nggak segampang di Belanda yang kalau bingung di tengah jalan bisa tanya ke siapapun. Di sini agak susah, paling bisa nanyanya ke petugas di stasiun. Peta Paris yang lengkap bener-bener jadi andalan banget selama di sini.
3.       Restoran halal susah baaangeeet di Paris. Untung saya udah dapet info ini dari sebelum berangkat, jadi saya bawa bekal dari Belanda. Tempat solat yang representatif juga nggak ada, ikhlasin aja solatnya dijamak :’) .
4.       Jaga barang bawaan, apalagi kalau bepergian sendirian. Bukan hanya dari resiko kehilangan, tetapi juga dari resiko dimasukkan benda-benda yang tidak diinginkan. Jangan sampai ketiduran kalau lagi nunggu atau duduk-duduk santai. Kebetulan banget, pas di sini saya ngelihat ada pengedar narkoba ditangkap di stasiun. Terus, polisi Paris-nya kayak belum puas gitu, melepas anjing pelacaknya buat mendeteksi ke pengunjung lain. Horor banget kan, kalau sampai kita tadinya ketiduran terus tas kita dimasukin narkoba. Tingkat kewaspadaan emang harus bener-bener dijaga kalau pergi sendiri. Ini yang bikin saya nggak terlalu ngoyo juga, kalau udah capek ya udah walaupun masih ada objek wisata yang belum sempat dikunjungi, karena saya butuh stamina lebih buat tetap terjaga selama di perjalanan.
5.  Cukup banyak orang yang meminta sumbangan secara liar. Mereka mengatasnamakan lembaga penyandang cacat. Membawa formulir, meminta kita menulis nama dan tanda tangan dengan alasan untuk mendukung campaign mereka, lalu di akhir akan meminta sumbangan dengan gaya memaksa. Dari awal lebih baik hindari, nggak usah berhenti ketika mereka menyetop. Kalau udah terpaksa kejebak, masih bisa koq mengelak. Paling banter cuma dicemberutin sama mereka, karena ditempat seramai itu nggak mungkin mereka berani melakukan kekerasan.

6.  Nggak usah ragu beli oleh-oleh di pedagang asongan Negro yang banyak kita temui di sekitar Sungai Seine dan Museum Louvre. Mereka cuma pembawaannya aja koq yang kelihatan agak sangar, padahal sih tetap sopan dan nggak memaksa pembeli juga. Kalau cuma sekadar mau beli gantungan kunci atau magnet kulkas, harga di mereka jauh lebih murah dibanding di toko souvenir lho. Selisihnya antara 50%-80%, dengan kualitas barang yang sama, soalnya di mereka bisa ditawar :D .


Paris - Amsterdam - Jakarta

Perjalanan ke Paris ini menjadi penutup petualangan satu bulan saya di Eropa. Dari Paris, saya kembali ke Amsterdam naik bus Eurolines. Sampai di Amsterdam Duivendrecht sekitar pukul 6 pagi juga, langsung lanjut ke Amsterdam Centraal Station. Di sana saya sarapan sebentar, lalu kembali naik kereta menuju ke bandara Schiphol. Ah, rasanya baru kemarin saya mendarat di bandara Schiphol ini, sekarang tahu-tahu udah harus boarding kembali ke tanah air lagi. Sebulan merasakan tinggal di benua Eropa memberi banyak pelajaran bagi saya. Oleh-oleh yang saya dapat nggak cuma sekedar foto-foto bangunan megah, tetapi lebih dari itu, banyak nilai-nilai positif yang bisa kita ambil dari mereka.

Syukur tiada henti kepada Alloh. Terima kasih tak terhingga untuk Nuffic Neso Indonesia atas sponsornya (terutama mbak Rosa dan mbak Opit yang saya repotin banget untuk mengurus administrasi keberangkatan saya ini), terima kasih Tim Negeri Van Oranje yang sudah memilih artikel saya yang nggak seberapa itu menjadi pembuka jalan saya ke benua putih, terima kasih buat Ibu sama Bapak yang udah ikhlas ngizinin anaknya melanglang buana ke negeri asing, terima kasih juga buat keluarga dan teman-teman yang membantu kelancaran perjalanan ini yang mohon maaf nggak bisa saya sebutkan satu per satu. Makasih, makasih, makasih..... Semoga kaki-kaki kita terus diberi kesempatan untuk menjelajahi sudut-sudut lain di bumi-Nya yang luar biasa indah ini :D

1 komentar:

  1. TERIMA JASA TOUR GUIDE PARIS

    Cocok untuk yang ingin menghemat waktu & tidak tahu kota paris

    KEUNTUNGAN :
    1. Menghemat waktu dari pada harus mencari lokasi/ takut nyasara
    2. Biaya terjangkau/ bias nego
    3. Waktu fleksibel ( hubungin terlebih dahulu )
    4. Tour guide bisa berbicara Bahasa Indonesia dan Prancis
    5. Free antar jemput ke bandara CDG Paris

    Syarat & ketentuan :
    • Transport di tanggung masing2 peserta ( mobil ataupun transport umum )
    • Makan Tour guide di Tanggung peserta

    CP:
    WA : +33771174763
    Email : gratiaatanka@ymail.com

    BalasHapus