Sabtu, 08 Agustus 2015

Trip to The Hague

Saat kita mengajukan pertanyaan, kota manakah yang menjadi ibukota Belanda, beberapa orang ada yang tidak yakin dengan jawabannya. Mereka ragu-ragu antara Amsterdam atau The Hague (alias Den Haag). Jawaban yang benar tentu saja Amsterdam. Namuuuun, wajar sih kalo orang ada yang berpikir The Hague adalah ibukota Belanda. Sebab, pusat pemerintahan Belanda memang berada di kota ini. Yup, Belanda adalah satu dari sedikit negara yang pusat pemerintahannya tidak berada di ibukota.

Nah, ceritanya, kemarin kelas kami mengadakan day trip ke The Hague! Tiap kali day trip begini saya pasti semangat. Marteen, dosen kami, selalu tahu spot-spot terbaik yang worth-it untuk dikunjungi di masing-masing kota. Nggak heran lah yaa, doi kan master sejarah dan sehari-hari memang ngajar di fakultas Humanities, Universiteit Utrecht :P . Jadi banyak detail-detail menarik yang dia tahu dan diceritain sepanjang perjalanan.

Seperti biasa, kita berangkat naik bis kecil. Belanda tuh negara super kecil yaaa. Pergi dari satu kota ke kota lain nggak memakan waktu lama hehehe. Apalagi Utrecht letaknya di tengah-tengah, jadi relatif dekat ke kota-kota manapun. Untuk ke The Hague, cuma memakan waktu setengah jam. Kalo di Jakarta, Gambir-Bintaro yang masih sama-sama 1 kota aja bisa 2 jam :P . Dan btw, saya baru ngeh, masuk jalan tol di Belanda itu kayaknya nggak bayar lho... CMIIW. Soalnya, nggak ada gardu petugasnya juga. Tapi hebatnya, biarpun nggak dijaga petugas, nggak ada satupun motor yang nerabas melintas. Bener-bener cuma dipake buat mobil. CCTV di mana-mana sih, wkwkwk. Kalau di Jakarta? Hmmm, jalur Transjakarta aja musti dikasih palang biar gak diterabas motor :( .

Jalan menuju The Hague

Nyampe di The Hague, kita langsung menuju kompleks Binnenhof, ini kompleks parlemen-nya Belanda, sering diibaratin Jantung Politik-nya Belanda. Taman di dalam kompleks Binnenhof terbuka buat umum, mencerminkan transparansi ala demokrasi Belanda. Katanya siih, jangan kaget kalo pas lagi jalan-jalan di tamannya, terus kita ketemu anggota parlemen lagi ngopi-ngopi cantik atau bersepeda. Sayang, pas kita ke sana lagi masa reses, jadi kompleksnya sepi.


Miniatur lilin di atas ngasih gambaran awal ke kita, bangunan apa aja yang ada di kompleks Binnenhof. Namanya tentu aja khas Belanda, yang jujur sampe sekarang saya suka ngikik sendiri kalo nge-lafalin nama-nama Belanda. Jadi ni ya, beberapa abjad itu di Belanda dilafalin dengan lucu (menurut saya :p ). Kayak misalnya huruf "G" itu dilafalin kayak huruf Kha di huruf hijaiyyah/huruf Arab. Iyaaa, lengkap dengan suara kayak orang ngorok dari tenggorokan :p . Terus mereka juga punya huruf "EU" yang pelafalannya sama kayak orang Sunda kalo ngomong henteu, ceuceu, begitu... Hehehe.

Kembali ke topik. Bangunan pertama yang kita tuju adalah Ridderzaal yang dalam bahasa Inggris berarti Hall of Knights. Bangunan ini merupakan bangunan parlemen tertua di Belanda, dibangun pada abad ke-13.

Depan Hall of Knights
Secara resmi, Hall of Knights sekarang cuma dipakai setahun sekali, yaitu tiap awal tahun anggaran, tepatnya pada hari Selasa minggu ketiga di bulan September. Buat orang Belanda, ini acara besar lhoo, ada seremoni-nya segala. Harinya disebut Prinjesdag (dibaca : prinsesdaaaakh *inget : dakh-nya harus ngorok :p ). Seremoni-nya diawali dengan iring-iringan kereta kencana Raja Belanda dari istana yang letaknya juga di The Hague menuju ke Hall of Knights. Terus, pas sampai di sana, sang Raja akan ngebacain semacam garis besar pemerintahan buat setahun ke depan. Nah, pas Raja selesai baca dan mau kembali ke istana, anggota parlemen dan kabinet yang hadir harus teriakin yel-yel "Long Live, the King! Long Live, the King!". Hihihi, buat beberapa orang ini tradisi kuno banget, tapi buat saya sih lucu lucu aja. Setelah Raja pulang, baru deh Menteri Keuangan Belanda membacakan APBN-nya. Kenapa harus nunggu Raja pulang? Ini semacam simbol sih kalau masalah keuangan negara murni tanggung jawab pemerintah, bukan tanggung jawab kerajaan. Khas monarki konstitusional lah yaa :)

Saya sempat terharu pas lihat bagian dalam Hall of Knights. Kursinya sederhana bangeeeet!


Kursi merah, dengan jok yang nggak terlalu tebal, rangkanya tanpa ukiran macam-macam,serta tanpa lengan. Dan kursi itu diperuntukkan buat para anggota kabinet dan parlemen. Singgasa rajanya juga nggak terlalu mewah, jauh dari bayangan awal saya. Spontan, saya langsung membatin, "Saya yang cuma apalah-apalah di kantor aja dapat kursi yang jauh lebih nyaman". Duh, Gustiii, sebegitu rendah hati-nya kah aparat pemerintahan Belanda? Buat saya ini menohok banget!

Tapi tapi tapi, rasa tertohok saya kemudian berkurang ketika menuju bangunan parlemen berikutnya yang lebih baru :P . Hahaha, mulai dari bangunan Senat (alias DPD-nya Belanda) yang dibangun di abad pertengahan maupun bangunan Tweede Kamer (alias DPR-nya Belanda) yang baru dibangun di abad 20. Dua bangunan inilah yang sehari-hari dipakai oleh legislatif Belanda. Dan buat standar bangunan untuk legislator, fasilitasnya saya nilai layak. Kursinya nggak seperti kursi merah itu :P Saya belum pernah masuk ke gedung DPR di negeri sendiri sih jadi nggak bisa membandingkan dengan fasilitas di sini. Yang pasti, sepertinya sih ruang sidang di parlemen Belanda lebih kecil dibanding DPR kita karena jumlah anggotanya juga lebih sedikit, hanya 200-an orang. Penjagaan di kedua bangunan ini lebih ketat. Selama tour, kami dilarang mengambil gambar dan wajib menitipkan tas di loker. Bahkan, di Tweede Kamer, tas kami harus melalui pengecekan Sinar-X, dan setelah lolos ditempeli pita kuning kayak gambar di bawah ini.


Padahal tas-nya ditaruh di loker yak, kenapa dikasih pita segala, hahaha. Tapi lumayan sih, jadi bisa buat kenang-kenangan. 06-08-15 itu tanggal kunjungan kami, dan di kedua ujung ada angka 10:54, itu jam tas saya lolos pemeriksaan Sinar-X :))))) .

Selama tour di Senat dan Tweede Kamer, kita dijelasin tentang sistem perpolitikan di Belanda Gak terlalu jauh beda sama di Indonesia : multi-partai, koalisi... Ah, ntar kalo saya bahas detail di sini yang baca pada ngantuk. Skip that! Yang unik cuma satu sih, mereka punya Partai Hewan (Animal Partij) yang tentunya concern sama kelestarian hewan. Ini bikin saya jadi inget sama Bang Erikson, temen kuliah di Unsoed yang punya ide buat ngasih insentif pajak semacam PTKP kepada orang-orang yang bersedia memelihara hewan. Di Belanda udah mulai diperhatiin nih Bang, mungkin di Indonesia suatu saat bisa juga :D .

Selesai tour parlemen, Marteen menantang kami untuk mencoba ikan Haring. Saya sih ogah bangeet yaaa. Hahaha. Sampai saat ini, saya masih ogah makan hidangan laut mentah. Sushi yang ikan mentahnya udah ketutup nori dan nasi aja saya nggak pernah mau nyobain. Apalagi Haring yang kelihatan jelas ikan segar-nya :P Yup, salah satu makanan tradisional Belanda adalah ikan haring yang dimakan mentah, dalam kondisi badan masih utuh, masih lengkap dengan ekornya, hanya dipotong bagian kepala dan dibersihkan sisiknya saja. Terus, untuk penghilang amis ditambah dengan cacahan bawang merah. Begini penampakannya :


Are you dare to try? :P :P :P

Marteen mempraktekkan cara memakannya di depan kami. Pegang buntutnya, lalu hap.... Dan saya nge-capture dua gambar di bawah ini sambil bergidik ngebayangin rasanya :P



Kebanyakan teman-teman yang berani mencoba itu dari Jepang, Korea, China, Taiwan, dan Hongkong. Ketika ditanya gimana rasanya, mereka sambil ketawa-ketawa sepakat menjawab, "sushi is better". Hihihi.... 

Selesai makan haring, kami lalu melakukan walk-trip mengunjungi bangunan-bangunan penting lainnya. Ada yang bisa nebak, bangunan apa yang di bawah ini?


Istana Raja! Kaget? Hehehe, saya juga kaget karena ternyata istana-nya sederhana banget. Yang bikin saya lebih kaget, nggak ada satupun petugas yang kelihatan menjaga. Bangunan pos penjagaan pun nggak ada. Di kompleks parlemen juga sama sih, kecuali ya petugas Sinar-X di Tweede Kamer itu. 


Royal Family-nya Belanda seperti ini, jadi penasaran, Royal Family di Inggris seperti apa yaaa? *berdoa yang kenceng biar bisa ke sana :P.

Tour di kota The Hague diakhiri dengan berkunjung ke International Court of Justice. Ini merupakan pusat hukum internasional. Sayangnya, sama seperti di Istana Raja, di mahkamah hukum ini kita juga nggak bisa masuk menjelajahi bagian dalam bangunannya karena bukan jadwal kunjungan. Cuma bisa foto-foto dari luar deh.



Bye bye The Hague... Sampai jumpa kembali di tanggal 17 Agustus nanti, Insyaa Allah! (Yep, saya berencana balik lagi ke kota ini buat ngerayain hari kemerdekaan negeri kita yang ke-70 di KBRI ^o^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar