Sabtu, 08 Agustus 2015

Simpelnya Halte Bus OV

Siang tadi, saat naik bus OV, saya melihat seorang penumpang perempuan naik bus membawa sepeda lipatnya. Sebenarnya, hal kayak gini lazim terjadi di sini. Di dalam bus OV, ada satu sudut dimana penumpang bisa meletakkan sepeda/trolley bayi, dan sudut itu dilengkapi semacam sabuk pengaman agar sepeda/trolley bayi itu tidak bergerak selama dalam perjalanan. Bukan baru sekali ini saya melihat ada penumpang yang melakukan hal tersebut. Tetapi, nggak tahu kenapa, tadi siang saya tiba-tiba langsung kepikiran gimana seandainya kita mau melakukan hal yang sama di bus Transjakarta. Mungkinkah? (Plis, jangan pasang backsound "mungkinkah... kita kan slalu bersama... walau terbentang jarak antara kita..." . Saya lagi serius... SE..RI..US... :P :P :P )


Emmm, jawabannya mungkin aja sih. Dengan syarat, petugasnya gak melarang. Soalnya, desain bus Transjakarta kan bukan kayak metromini yang udah penuh sesak sama kursi. Bagian tengah bus Transjakarta adalah ruang kosong, jadi kalo penumpang mau bawa sepeda 5 biji pun masuk-masuk aja, asal jangan di jam sibuk. Atau, boleh deh di jam sibuk, asal tahan menghadapi pelototan mata orang-orang yang seolah berkata "sepeda siapa sih nih? berani-beraninya ngambil ruang berdiri gue", wkwkwk. Masalahnya, untuk bisa masuk ke bus Transjakarta, si pembawa sepeda itu butuh usaha lebih. Dia harus berolahraga terlebih dahulu : ndorong sepeda naik ke atas jembatan penyeberangan, lalu ndorong lagi turun menuju halte busway :P


Ini sebagian dari anak tangga yang musti ditaklukkan. Cuma bisa bilang satu kata : Semangaaattt ! :P

Yap, sebagian besar halte Transjakarta hanya dapat diakses lewat anak tangga yang super banyak. Ngebantu bantu banget sih buat orang-orang kantoran yang jarang olahraga hahaha. Emm, kembali serius lagi. Saya mengerti ide peletakan halte bus Transjakarta di tengah badan jalan adalah agar lebih terkontrol. Pintu bus Transjakarta sendiri didesain berbeda dengan bus-bus lainnya di Indonesia, yaitu terletak di sebelah kanan, dan relatif tinggi jika diukur dari permukaan jalan, tanpa ada tangga di pintu masuk. Dengan desain seperti ini, penumpang jadi tidak bisa seenaknya naik dari pinggir jalan. Penumpang hanya bisa naik dari halte saja, yang notabene memang letaknya di kanan jalur bus. Harapan pemda DKI yang merancangnya saat itu, masalah angkutan umum yang seenaknya mengambil penumpang di luar halte bisa teratasi. Harapan itu terkabul. Tidak seperti bus PPD yang nakal berhenti sesuka hati mereka, padahal mereka pun sudah disediakan halte. Dan heiii, PPD itu sama seperti Transjakarta lho, sama-sama dikelola BUMD. Dengan case perbandingan PPD dan Transjakarta ini, saya dulu sempat menyimpulkan, oooh ternyata memang desain halte berpengaruh yaa untuk mengontrol ketertiban kendaraan umum.

Tapi, kesimpulan saya saat itu mungkin keliru. Tiga minggu belakangan, di tanah yang jaraknya ribuan kilometer dari Jakarta, saya hampir setiap hari berdiri di halte yang ada di foto di bawah ini.



Halte yang sangat simpel : halte bus OV. Tak memerlukan AC karena memang bukan di ruang tertutup. Tidak perlu naik tangga untuk menjangkaunya. Saya yakin, biaya pembuatannya pasti lebih murah dibanding halte Transjakarta kita...

Dan yang menakjubkan, halte sesimpel ini benar-benar berfungsi sesuai kodratnya. Bus-bus OV hanya mengambil dan menurunkan penumpang di halte-halte seperti ini. Semua penumpang pun, entah itu warga lokal maupun orang asing seperti saya otomatis langsung paham, menunggu bus OV selain di halte ini adalah sebuah pekerjaan sia-sia karena bus tidak akan mungkin mau berhenti. Padahal, tak ada satupun penjaga di tiap halte lho... Tapi supirnya bersedia taat pada sistem, hebat ya! :)

Pemda DKI sudah pernah membuat halte sesimpel ini, tapi kita (supir dan penumpangnya) nakal. Rusuh ingin naik dan turun di sembarang tempat. Akibatnya, pemda DKI kemudian putar otak, dan muncullah ide kreatif Transjakarta :P Sebuah ide yang biaya pembangunannya mahal, dan bagi kita sebagai pengguna pun desainnya kurang efisien jika dibandingkan dengan halte simpel Bus OV. Tidak, saya tidak menyalahkan Pemda DKI karena mereka hanya mencari solusi dari transportasi umum yang semakin sulit diatur. Saya hanya menyalahkan diri saya sendiri, kenapa dulu nggak manut menunggu di halte sederhana, kenapa dulu egois ingin bebas naik-turun di mana saja ketika naik PPD/metromini, hingga sekarang harus mengeluarkan tenaga lebih kalau ingin menggunakan bus Transjakarta. Secapek-capeknya saya naik turun tangga halte bus Transjakarta, mungkin masih tidak apa-apa... Yang lebih kesulitan adalah mereka-mereka yang hanya bisa berjalan dengan bantuan kursi roda atau tongkat.... Dengan halte sesimpel halte Bus OV, kawan-kawan berkursi roda di sini masih bisa mandiri naik turun bus. Namun di halte bus Transjakarta? Ah, egoisnya saya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar