Sabtu, 29 Agustus 2015

Merayakan 70 Tahun Indonesia Merdeka di Negeri Belanda

Semenjak bekerja, setiap tanggal 17 Agustus saya selalu bersorak gembira karena selalu lolos dari jatah upacara bendera di kantor. Soalnya, di kantor pusat upacaranya lintas direktorat sehingga tidak memungkinkan kalau semua pegawai ikut serta. Solusinya, masing-masing bagian hanya diminta mengirimkan beberapa orang perwakilan. Berhubung di bagian saya mayoritas lelaki, maka sebagai perempuan saya selalu aman dari jatah upacara, bahkan sejak masih berstatus anak baru :P . Pokoknya, tiap libur 17 Agustusan itu jatah pulang kampung buat saya, hehehe.

Tapi tahun ini spesial. Saya bela-belain perpanjang waktu tinggal di Belanda, demi bisa ngerasain perayaan hari kemerdekaan di sini, di negeri yang dulu menjajah kita. Penasaran, seperti apa auranya.

Makin penasaran, ketika selama kelas Dutch Culture, beberapa kali histori penjajahan Belanda di Indonesia disebut-sebut. Ketika berbicara tentang hubungan 2 pihak, saya selalu tertarik mencoba mendengar dari 2 sisi. Cover both side. Ibaratnya, kayak ndengerin curhatan putusnya sahabat kita yang pacaran. Pasti adaaa aja yang beda antara cerita dari pihak cowok dengan dari pihak ceweknya kaaan? * jauh amat sih perumpamaannya, tapi iyain aja biar cepet :P .
Begitu pula hubungan antara Indonesia-Belanda. Dua belas tahun lebih saya sekolah. Selama rentang waktu itu,  kebanyakan cerita penjajahan Belanda hanya saya tahu dari apa yang tercantum di kurikulum kita. Tentang VOC, tentang kerja rodi, tentang politik adu domba, dan terakhir politik balas budi. Kalau dari sudut kurikulum Belanda sendiri, ternyata cukup banyak yang berbeda. Yang paling menonjol, tentang pengakuan tahun kemerdekaan kita. Coba deh tanya ke anak-anak setingkat SD di Belanda, tahun berapa Indonesia merdeka. Yang khusyuk ndengerin gurunya nerangin, pasti akan jawab tahun 1949. Yuuup, karena itulah informasi yang dicekokkan pada mereka. Bahwa Indonesia baru merdeka tahun 1949, setelah Belanda merelakan Papua lepas dari tangannya melaui kesepakatan di Konferensi Meja Bundar. Jadi di kurikulum mereka, kemerdekaan Indonesia itu mereka yang memberikan, bukan kita yang mengusahakan. Sakit hati bangeet pas diceritain begini. Tapi sebenernya, kalau untuk level-level universitas, dosen-dosen sejarah Belanda sudah tahu tentang proklamasi di tahun 1945. Hal ini saya tahu waktu kelasnya Emmeline Bessamusca. Waktu itu, di slide-nya dia nulis Indonesia merdeka tahun 1949, terus dia ngelihat saya udah senyum duluan bahkan sebelum dia nerangin poin itu. Ngelihat saya senyum, Emmeline malah ketawa, dan bilang kurang lebih begini, “I know why you smile. Any interesting thing you see in my slide?”. Yaaa intinya sejarahwan Belanda itu tahu dan setuju Indonesia sebenarnya merdeka tahun 1945, tapi didebat kayak apapun bakalan keukeuh mempertahankan angka 1949 itu di slide, buku, dan semua bahan ajar mereka. Soalnya, kata mereka tahun 1947-an kan mereka balik lagi mengagresi kita. Dan, Papua masih di tangan mereka sampai tahun 1949 itu. Hal yang sangat disayangkan, tapi bukan hal yang penting banget juga untuk diperdebatkan.
Yang beda lagi, mereka tidak terlalu membahas tentang kerja paksa. Mereka justru lebih nonjolin tentang masa-masa VOC karena bagi mereka itulah golden age-nya. Mereka mengakui banyak mendapat keuntungan ekonomi dari kita selama masa itu. Keren juga sih kayaknya kalau misalkan di kurikulum kita diajarin rahasia tata kelola VOC sampai bisa se-digdaya itu. Yang selama ini ditonjolkan di kurikulum kita kan hanya tentang bagaimana kejamnya mereka. Well, kekejaman itu saya percaya memang fakta, tetapi di sisi lain saya juga percaya bahwa suatu perusahaan tidak akan mungkin bisa sebesar VOC kalau hanya bermodalkan kekejaman, tanpa tata kelola yang baik dan disiplin. Asyik kaan kalau kita bisa tahu rahasia suksesnya, supaya bisa diduplikasi *etdaah, bahasanya MLM banget :P .

Terus, hal terakhir yang tidak diajarkan di kurikulum kita adalah tentang migrasi orang Belanda asli atau Indo-Belanda pasca kemerdekaan kita. Mereka berbondong-bondong kembali ke Belanda, kemungkinan besar alasannya karena takut mendapat perlakuan diskriminasi dari pemerintah kita. Bisa dibayangin sih, awal-awal kemerdekaan kan rasa nasionalisme kita pasti tinggi banget, yang ujung-ujungnya kita pasti saat itu tidak suka dengan orang-orang Belanda. Nah, berhubung orang Belanda ini udah beratus-ratus tahun tinggal di Indonesia, banyak di antara mereka yang bahkan lahirnya pun di Indonesia, hingga saat migrasi merasa asing dengan tanah Belanda sendiri. Mereka kemudian tetap mempertahankan beberapa kultur yang mereka bawa dari Indonesia, termasuk selera kulinernya. Tidak heran, sampai sekarang beberapa makanan Indonesia popular banget di Belanda, bahkan udah mereka anggap kuliner mereka sendiri, seperti sate dan nasi goreng. Di sana, nge-hits banget lhoo bumbu sate,  ejaannya pun sate, bukan satay). Dipakai buat saus kentang goreng, buat topping pizza, padahal di Indonesia aja tidak sampai segitunya kreasi bumbu sate :P .

Lagi-lagi, terbukti, sejarah itu memang tergantung pada siapa yang menuliskan. Memang bukan hal yang mudah, mengungkap fakta tanpa diimbuhi bumbu-bumbu keberpihakan. Tulisan saya di atas mungkin juga tidak sepenuhnya benar. Karena, tanpa bisa saya hindari, ada pendapat-pendapat pribadi saya yang ikut tertuang, yang tentu tidak murni dari tendensi :) Kalau ada yang mau mengkritik, mendebat, atau apapun, silahkan bisa manfaatkan kolom komentar ;)

Setelah tahu dua sisi cerita penjajahan Belanda itu, walaupun dari sisi Belanda-nya masih sangat sedikit, saya jadi makin penasaran seperti apa perayaan kemerdekaan di sini. Paling penasaran sih, angka berapa yang akan tertulis sebagai usia kemerdekaan kita. Apa jangan-jangan di Belanda, umur negeri kita ditulis lebih muda 4 tahun sesuai kurikulum mereka?

Alhamdulillah, ternyata tidak! Sama dengan di tanah air, dekorasi angka 70 menghias manis rumah dinas Duta Besar RI di Wassenaar pada tanggal 17 Agustus 2015 ini. Ada rasa haru yang mendalaaaam banget saat melihat angka ini. Kedaulatan kita benar-benar nyata, bahkan di tanah yang masih enggan untuk mengakuinya. Spanduk angka 70 yang besar seolah berteriak, “ini lhooo umur kita yang sesungguhnya”.





 Suasana upacara bendera di Wassenaar berlangsung khidmat. Hujan gerimis berpadu cuaca dingin tidak menghalangi jadwal upacara. Upacaranya cukup formal. Yang boleh berdiri di barisan upacara hanya tamu undangan, staf KBRI, staf Garuda Indonesia Airlines, serta anak-anak dan guru Sekolah Indonesia. Hadirin yang lainnya, termasuk para mahasiswa Indonesia, mengikuti upacara dari tenda yang disediakan di belakang barisan. Sebelum upacara sempat mengobrol banyak dengan seorang ibu yang sudah belasan tahun menetap di Den Haag karena suaminya orang Belanda. Dia dengan bangga cerita kalau sampai sekarang dia masih mempertahankan passport hijau-nya, walaupun itu berarti harus repot mengurus visa tiap kali mau melancong ke negeri Eropa lainnya. Ibunya ini udah lumayan sepuh, tapi masih enerjiik banget. Terus dia juga bilang, “Kalian boleh masih kecewa dengan Indonesia yang sekarang, itu bagus, berarti kalian ada keinginan untuk terus menyempurnakan. Tapi tolong, jangan pernah mengeluhkan Indonesia di depan teman-teman kalian yang dari negara lain. Misuh-misuhnya cukup di antara kita-kita sesama orang Indonesia aja” . Disimak-simak, banyak benarnya juga sih pesan dari si Ibu ini :) .

Selesai upacara, saya tidak bisa berlama-lama karena harus segera kembali ke Utrecht mengejar jadwal check-out hostel. Diiringi rinai gerimis, sebuah lagu seolah bergema mengiringi perjalanan pulang saya,
“Walaupun banyak negeri ku jalani.. Yang mahsyur permai di kata orang.. Tetapi kampung dan rumahku, di sanalah ku merasa senang… Tanahku yang ku cintai, engkau ku hargai… “


Selamat ulang tahun Indonesia-ku, semoga berkah dan kebaikan selalu menyertaimu. Terima kasih untuk tanah, air, udara, dan berjuta kesempatan manis (termasuk sekolah gratis :p ) yang telah Allah berikan melaluimu, negaraku :) .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar