Senin, 03 Agustus 2015

Belajar Bikin Keju Tradisional Belanda



Siapa yang suka keju, cuuung !! Saya sukaa banget.

Makanya, pas sebelum berangkat ke Belanda ditawarin untuk ikutan acara tambahan workshop pembuatan keju tradisional di Gouda, saya semangat daftar. Acaranya diadain Sabtu, 1 Agustus kemarin. Biarpun teman sekelas saya nggak ada satupun yang ikut, saya tetep antusias berangkat. Toh, nanti juga di sana pasti ketemu temen baru ;)

Jam 09.30 pagi semua peserta diminta kumpul di Jaarbeursplein. Berhubung saya agak lemot dalam membaca peta (peta tradisional maupun google map :p), saya sengaja berangkat dari dorm lebih awal karena saya belum pernah ke daerah Jaarbeursplein itu. Ancang-ancangnya sih, di belakang stasiun Utrecht Centraal. Untungnya, langsung ketemu nggak pakai nyasar hehehe. Dan sesuai dugaan, belum ada satupun yang datang. Bisa foto-foto dulu nih :D .

Meeting point : masih sepi
Jaarbeurs. Abaikan board iklannya :p

Ada masjid di sekitar Jaarbeurs :D Itu pagarnya bukan menghalangi masjid yah. Kebetulan aja saya ambil dari Jauh :D


Nggak lama kemudian, satu persatu rombongan mulai datang. Total pesertanya nggak banyak sih, cuma 15 orang. Dan nggak ada satupun yang saya kenal, hahaha. Jurus pedekate pun dilancarkan. Pertanyaan standar seperti : "Hello, where are you come from?"... "What course do you take?" terbukti selalu ampuh membuka percakapan. 

Jam 09.30 teng. Suara koordinator acara menyeruak di antara obrolan kami. Sang koordinator mengumumkan, ada 2 peserta yang belum datang, dan bertanya apakah ada di antara kami yang mengenal mereka. Semua menggeleng. "Okaaaay. Maybe they are sleepy... Or maybe they don't wanna come... So, let's we goooo". Lagi, budaya tepat waktu ditunjukkan.

Sepanjang perjalanan, tersaji pemandangan yang Maa syaa Allah cantiknya...





Sampai di tempat tujuan, kami langsung menuju tempat workshop. Jadi, yang nyelenggarain workshop-nya ini adalah seorang peternak keju yang juga memproduksi keju dalam skala cukup besar, tetapi dilakukan secara tradisional (bukan di pabrik). Begitu datang, kami langsung dipersilahkan masuk ke dapur rumahnya, yang masih satu bangunan dengan toko keju serta gudang kejunya. Di atas meja makan, sudah tersaji dua buntelan handuk merah yang waktu itu kami belum tahu apa isinya :)))


Setelah sedikit perkenalan, dia langsung menyuruh kami membuka buntelan handuk itu. Ternyata, isinya sepanci susu sapi segar.



Padahal, panci-nya ada tutupnya. Tetapi, tutup itu ternyata masih belum cukup untuk menjaga kehangatan si susu agar tetap di suhu sekitar 96 derajat Fahrenheit.

Proses mengubah susu menjadi keju secara tradisional ternyata simpel saja, yang susah adalah bahan-bahannya :P .

Pertama, kita perlu susu sapi segar (bisa juga diganti dengan susu kambing) dari sapi/kambing yang benar-benar sehat dan terjaga pola makannya. Berbeda halnya jika pengolahan keju dilakukan di pabrik, maka tidak masalah apabila susunya masih mengandung bakteri buruk karena akan ada proses pasteurisasi yang akan mematikan si bakteri buruk itu. Sementara, jika diolah secara tradisional, proses pasteurisasi tidak dilakukan sehingga apabila kualitas susunya tidak prima maka keju yang dihasilkan akan membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, para produsen keju tradisional di Gouda memiliki peternakan sapi/kambing sendiri-sendiri. Dengan demikian, mereka bisa mengontrol langsung bahan baku susu yang dipakai.

Bahan kedua adalah bibit bakteri MM100. Bahan yang ini sih gampang diperoleh di toko bahan kue ^^.

Bahan ketiga, nah ini yang juga susah, yaitu Rennet. Ini adalah susu kental yang dihasilkan oleh sapi/kambing berusia kurang dari satu tahun, yang belum mengkonsumsi apapun selain air susu induknya. Ternyata, bukan cuma manusia aja ya yang dianjurkan ASI Eksklusif. Sapi dan kambing di Gouda juga sama. Hihihi, mungkin ini bukti kalau di usia awal, makanan terbaik memang air susu ibu atau induk yaa :) .

Susu yang ada dalam panci pada foto di atas itu sudah dicampur dengan MM100. Langkah selanjutnya, kita cuma perlu mencampurkan Rennet ke dalam susu itu, diaduk perlahan, lalu ditutup lagi dengan handuk. Diamin selama 40 menit. Selama nunggu 40 menit itu, kita kembali dijelaskan tentang serba-serbi pembuatan keju. Diselingi juga dengan diskusi ringan masalah gizi. Tentornya kocak. Dia beberapa kali mengkritisi pola makan orang-orang jaman sekarang, termasuk para vegetarian. Dia nggak anti-vegetarian sih. Cuma dia heran aja sama orang-orang vegetarian yang menghindari lemak, tapi masih ingin mengkonsumsi susu dan produk turunannnya, termasuk keju. Dia bilang gini, "How can you want milk, but you don't wanna fat? It forced us to throw away the fat, and then to make it have the same taste with the original one, we add chemical flavoured! You call it low-fat cheese... You think you choose a healthy one.... But, for sure, you're wrong at all. Your stomach doesn't understand what you eat... You get nothing! Oh yeaahhh, you get slim... but without nutrition"

Terus, ada yang nanya dong, "So, in your opinion, full-fat cheese is better than the low-fat one? Don't you produce the low-fat one too?"

Dengan jujurnya, si tentor bilang, "Of course! Because the full-fat cheese all made from natural ingredients. Without any chemical flavoured. And yeaah... I produce the low-fat one. You know why? Remember demand law".

Huahahaha. Kami pun ngakak. Saya iseng nyeletuk, "But, you drink milk and eat cheese everyday, right?"

Di luar dugaan, jawabannya, "No, I don't drink milk. C'mon... milk are just for baby. We don't need it."

Semua peserta langsung pada pasang muka haaaah, serius lo??? . Peserta yang lain kemudian kontan menegaskan, "You never drink milk, and you never eat cheese too?"

"Haha. Of course I eat cheese. Everyday!! But it doesn't mean that cheese is better than milk. I am Dutch.... Every Dutch loves cheese. Simply like that."

Jujur banget yah ini si tentornya. Saya memang udah pernah dengar sih penelitian terbaru membuktikan susu dan produk turunannya hanya baik sebagai makanan rekreasional saja.Tapi, saya sama sekali nggak nyangka promo serupa akan saya dengar dari seorang peternak sapi perah yang juga penjual keju. Gimana saya nggak respek, coba? :))))

Diselingin diskusi menarik dan kocak seperti itu, kami jadi nggak sadar tiba-tiba waktu udah berjalan 40 menit. Tentor-nya lalu meminta kami membuka kembali panci untuk melihat apakah sudah ada perubahan atau belum. Wowww, ternyata sekarang susunya sebagian udah membentuk gumpalan, yang mirip tahu :D

Gumpalannya kemudian diaduk perlahan


Setelah diaduk, disaring untuk membuang airnya.
Hasil setelah penyaringan. Masih tersisa air sedikit, katanya sih nggak masalah :)

Setelah disaring, kemudian ditambahkan air putih hangat dengan suhu 130 derajat Fahrenheit. Diamin lagi 15 menit. Setelah itu aduk dengan keras. Lalu, buang airnya dan keju pun siap dicetak :D


Keju yang sudah masuk ke cetakan, lalu di-press dengan alat di atas, biar padat sempurna. Keju kemudian harus didiamkan selama semalam. Esok paginya (tentu kami nggak bisa melihat proses ini karena workshop cuma berlangsung 2 jam), keju yang direndam dalam bak berisi air garam, seperti foto di bawah ini.


Saat ditaruh di bak itu, posisi keju harus mengambang, jangan sampai tenggelam. Berarti, kandungan garamnya harus tinggi banget yak. Mungkin setara dengan di Laut Mati :D .

Selesai deh... Proses terakhir tinggal pemberian label dan pelapisan dengan lilin. Keju kemudian siap didisplay di toko atau ditaruh di gudang jika ingin dijadikan keju tua (old-cheese).





Sebelum pulang, kami kemudian dikasih kesempatan buat icip-icip keju yang sudah jadi, yeayyyy. Ada tiga jenis keju yang disajikan : keju muda, keju tua, dan keju rasa peterseli.

Keju Peterseli dan Keju Tua. Yang Keju Muda udah masuk mulut hehehe



Dan ternyataaaa..... saya cuma cocok sama keju muda haha. Yang keju tua dan keju peterseli itu rasanya terlalu asing buat lidah saya. Gak papa, yang penting misi buat mencicipi keju tradisional Belanda sudah terlaksana :P Eitss, selera masing-masing orang berbeda lhoo. Yuuk cicipin sendiri buat tahu cocok atau tidaknya dengan selera kalian ;) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar