Selasa, 25 Agustus 2015

Akhir Course dan Mulai Ngebolang


Karena Waktu Bukanlah Karet

Kalau ada satu keajaiban yang boleh saya minta, saya selalu berkhayal ingin punya kemampuan meng-elastiskan waktu. Pasti menyenangkan kalau momen-momen menyenangkan bisa kita ulur memanjang, seperti sebuah karet :D Sebelum berangkat ke Belanda saya sudah merasa kalau kemenangan di Holland Writing Competition 2015 merupakan sebuah anugerah yang luar biasa besar. Gimana gak besar? Jalan-jalan gratis ke Eropa sebulan full gitu lho hehehe. Setelah sampai di sini, setelah mengikuti course-nya, saya sadar kalau ini merupakan anugerah yang lebih daripada luar biasa. Banyak hal berharga yang saya dapat di sini yang leeebiiiih dari sekedar jalan-jalan gratis. Diskusi-diskusi seru dan penuh respek di kelas, teman-teman yang udah mulai berasa kayak saudara, plus hawa Utrecht yang sejuk banget bikin saya merasa berat ketika hari-hari akhir course semakin mendekat.

Kamis, 13 Agustus 2015, hari ujian akhir course. Bentuk ujiannya nggak jauh beda dengan ujian sebelumnya, jadi alhamdulillah saya cukup lancar mengerjakannya. Selesai ujian, seperti biasa kami sepakat buat masak dan makan malam bareng di salah satu flat. Sekitar jam 8 malam, kami mulai kumpul membawa bahan makanan masing-masing. Jadi,bahan makanannya ini emang kami beli patungan, tapi yang masak bergantian setiap malam. Kali ini yang dapat giliran masak adalah MK, Joo, sama Eric. Jangan bayangin kami masak menu-menu ala restaurant. Bukan soal spesialnya menu, melainkan kebersamaan berbalut joke-joke dan sharing ringanlah yang membuat acara makan malam ini selalu istimewa. Sedih banget makanya pas sadar kalo ini malam terakhir kami bisa masak dan makan malam bareng-bareng di dapur Cambridgelaan :( Selesai makan, kami ngobrol lamaaa banget. Di tengah-tengah obrolan, teman kami yang dari Meksiko, Paulina, ngelirik ke meja dapur dan ngeliat peralatan masak masih berantakan. Dia langsung inisiatif mau mulai nyuci piring. Eric, dengan gaya sok-sok bossy sambil cengar-cengir langsung negur, “Paulina, what are you doing? Back to your seat!”. Eric bener juga sih. Intinya, malam itu kita cuma pengen menikmati sisa-sisa waktu untuk bersama. Urusan cuci piring, biarlah nanti :’) .



Makan malam terakhir di Cambridgelaan

Besok paginya, dari pagi kita udah heboh di kamar masing-masing persiapan check-out dari flat. Baju sudah selesai saya pack dari kemarin, jadi pagi itu saya cuma tinggal bersih-bersih kamar. Memastikan semua perabotan utuh dan kembali diletakkan pada tempatnya, soalnya kalo nggak kita bisa didenda 125 Euro hahaha. Sekitar jam 9 pagi, kami berangkat bareng-bareng ke kelas. Maarten sudah menunggu. Dan, seperti tradisi di tiap akhir course, sudah ada sarapan pagi yang tersedia untuk kita nikmati bersama. Di course yang sebelumnya, setelah selesai sarapan kami nanjak ke Dom Tower. Nah, di course kali ini, giliran Dom Under (gua bawah tanah Dom) yang kita jelajahi. Kirain saya tuh gua bawah tanahnya segede apaa, nggak taunya cuma satu kotak yang kalau diputerin nggak sampai 5 menit juga udah selesai -,- . Materi yang disajikan di Dom Under lumayan menarik sih. Di sepanjang dinding gua ada film tentang sejarah Kristenisasi di Utrecht. Jadi objek wisata yang satu ini memang lebih menonjolkan materi edukasinya, tidak seperti Dom Tower yang lebih menonjolkan eksplorasi fisik bangunan.

Selesai dari Dom Under kami kembali ke kelas. Ambil koper dan sertifikat, lalu saling mengucapkan salam perpisahan. Ucapan see you when I see you… see you in another country.. I’ll miss you a lot.. feel free to contact me when you visit my country berhamburan. Dan yup, perpisahan itu akhirnya beneran terjadi, karena waktu bukanlah karet, nggak bisa diulur-ulur lagi :D

Penyerahan Sertifikat Course



Selesai dari kelas, ada yang langsung ke bandara kembali ke negaranya, ada yang melakukan Euro Trip, ada yang tetep di Belanda buat menjelajah kota-kota lainnya. Saya salah satu yang tetap di Belanda.

Ngebolang di Belanda

Note : cerita ngebolang ini bakalan panjaaang banget. Buat yang cuma butuh tips-tips ngebolang di Belanda, bisa langsung loncat ke akhir postingan :)

Saya bersyukur banget Neso Indonesia ngasih fleksibilitas tanggal kepulangan ke Indonesia. Kata mereka, kalo mau Euro Trip dan perpanjang sampai sebulan setelah selesai course juga boleh. Saya sih mauu banget tapi gak kebayang gimana njeritnya tabungan kalo diperpanjang sampe sebulan karena biayanya udah di luar tanggungan Neso, wkwkwk. Akhirnya saya cuma minta perpanjang lima hari aja.

Tentu sekarang saya udah nggak bisa nginep di Cambridgelaan lagi. Status saya berubah dari student menjadi si bolang :P Sekarang, waktunya nyobain nginep di hostel. Hostel yang saya pilih namanya Strowis Hostel, letaknya masih di kota Utrecht. Booking-nya dilakukan sekitar seminggu sebelum saya berangkat ke Belanda. Saya pilih hostel ini berdasarkan rekomendasi dari pihak Utrecht University. Sebelumnya, saya sempat terpikir buat menginap di kota lain, antara Den Haag, Amsterdam, atau Giethoorn. Begitu browsing di situs booking penginapan, opsi Giethoorn yang pertama saya coret karena ternyata di sana nggak ada hostel. Adanya penginapan dengan sistem bed & breakfast yang harga per malamnya melebihi harga hotel bintang 3, wkwkwk. Opsi yang tersisa tinggal Den Haag dan Amsterdam. Tujuan saya mengincar Den Haag supaya gak repot kalau mau Agustusan di KBRI, tetapi ternyata saya gak berhasil menemukan satupun hostel yang dekat dengan KBRI. Pencarianpun kemudian saya alihkan ke Amsterdam. Di Amsterdam ini, ada hostel khusus perempuan, namanya Hostelle. Rate per malamnya masih relatif terjangkau dan review dari orang-orang kayaknya memuaskan. Sayangnya, letaknya nggak di pusat kota, tapi di sekitar Biljmer Arena. Waktu itu saya belum tahu kalau jarak pusat kota Amsterdam ke Biljmer Arena tuh nggak seberapa jauh. Jadinya saya berpikir koq kayaknya bakal merepotkan yaa kalo dari Utrecht pindah ke Biljmer Arena. Dengan pertimbangan-pertimbangan itulah, akhirnya saya milih untuk booking hostel di Utrecht aja.

Dan sampe di sini, saya bersyukur banget nggak jadi pilih Amsterdam atau Den Haag. Soalnya buat saya dua kota itu memang menyenangkan untuk dieksplor sudut-sudut wisatanya, tetapi terlalu ramai kalau dipakai sebagai tempat tinggal. Utrecht masih tetap kota terbaaaiiik dan ternyaman buat tinggal. Dan Hostel Strowis yang saya booking ini memang bener-bener gak mengecewakan. Ini pertama kalinya saya nginep di hostel. Hostel yaa, bukan hotel :) Buat yang sering baca pengalaman-pengalaman backpacker di luar negeri pasti udah akrab banget dengan istilah hostel, penginapan para backpacker yang harganya relatif lebih murah dibanding hotel, tetapi tentu dengan tingkat privasi yang lebih rendah karena kamarnya ditempati beramai-ramai. Pilihan kamarnya ada macam-macam sih, ada yang 1 kamar isinya hanya 2 tempat tidur tingkat (alias muat untuk 4 orang), ada juga yang sampai belasan orang. Harga yang kita bayar bukan per kamar, melainkan per bed. Konsep dasarnya sih kamar di hostel itu nggak dipisah antara lelaki dan perempuan. Tetapi sekarang udah banyak koq hostel yang menawarkan kamar khusus perempuan, jadi buat cewek-cewek yang pengen backpacker-an sendiri nggak perlu kuatir lagi :D .

Enaknya di Hostel Strowis ini kita bisa booking tanpa pakai kartu kredit. Saat booking dari Indonesia, saya cuma diminta memasukkan nomor kartu debit saya sebagai jaminan. Pemotongan saldo baru dilakukan kalau kita sudah check-in. Hostel Strowis ini nggak terlalu besar ya. Mirip rumah Belanda biasa, hanya terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama untuk common room (resepsionis, ruang duduk bersama, kafe kecil, dapur bersama, ruang locker, serta taman), sedangkan lantai kedua dan ketiga untuk kamar. Saya pilih kamar khusus perempuan yang 1 kamarnya berisi 3 bed (1 tempat tidur tingkat dan 1 tempat tidur biasa). Harga per bed-nya 28 Euro per malam. Nggak mahaal :))) .

Pas saya datang, saya dikasih tahu kalau saya dapat bed yang di tempat tidur biasa. Yes, Alhamdulillah. Lebih Alhamdulillah lagi pas masuk kamar ternyata kamarnya masih kosong. Dalam hati udah bersorak aja, enaaak banget nih kalau bisa dapat 1 ruangan sendiri. Bayar harga hostel, dapat privasi ala hotel. I wish! Tetapi nggak lama kemudian ternyata datang tamu lainnya hahaha. Dua turis asal Italia : seorang ibu bersama anak gadis remajanya. Senang juga sih karena ternyata mereka cukup menyenangkan diajak ngobrol :D .

Pemandangan dari depan jendela kamar hostel Strowis

Lorong hostel strowis. Nggak kayak hotel, lebih kayak kosan :P Homey sih.

Bunk Bed-nya. Buat backpacker lumayan lah :)

Fasilitas di kamarnya hanya ada tempat tidur, meja kecil, colokan listrik (penting :p ), dan wastafel. Nggak ada lemari berkunci. Saya putusin buat menyimpan barang-barang di locker yang ada di lantai bawah. Fasilitas locker ini free, tetapi kita diminta jaminan 10 Euro sebelum memakainya. Kalau nanti kita check out, jaminan ini akan dikembalikan. Fasilitas toilet dan shower ada di tiap lantai, di luar kamar. Tapi jangan kuatir, bule-bule tuh kayaknya jam mandinya beda sama orang Indonesia kebanyakan deh. Selama di sini, saya gak pernah tuh ngantri kamar mandi, selalu kosong pas saya mau pakai :P Petugas-petugas di Hostel Strowis ini juga rajin-rajin, jadi kamar dan kamar mandinya selalu bersih. Dapurnya pun bersih, jauh dari bayangan awal saya tentang dapur hostel :D . Soalnya, aturan di sini memang ketat. Kalau kita mau menyimpan makanan di dapur, harus dikasih nama dan tanggal kita menaruhnya. Kalau nggak, jangan salahkan petugas kalau besoknya makanan itu disingkirkan ke tempat sampah.

Walaupun tegas, tetapi mereka sangat helpful. Mereka informatif banget kalau ditanyain tentang rekomendasi tempat-tempat wisata dan cara mencapainya ke sana. Kebetulan, Strowis Hostel ini letaknya juga di pusat kota Utrecht banget. Dari hostel ke Centraal Station kita bisa jalan kaki. Jadi, kalau mau ngejar kereta pagi-pagi buta juga gampang. Kekurangan hostel strowis cuma satu sih, wifi-nya kurang kencang hehehe. Tetapi, secara keseluruhan, dengan harga semurah itu, saya sih ngerasa aman dan nyaman banget di Hostel Strowis ini.

Sebenarnya, saya di hostel cuma kalau malam aja. Pagi sampai sore saya puas-puasin jalan-jalan. Di Belanda ini, budget terbesar kalau mau jalan-jalan sebenarnya ada di transportasi. Harga tiket kereta dan bis-nya lumayan nguras kantong. Dua puluh euro itu nggak akan cukup untuk mengeksplor satu kota. Apalagi, kalau kota yang dituju lumayan jauh dari Utrecht, dua puluh euro mah buat tiket kereta bolak-baliknya aja kurang. Tips hematnya, belilah daagkart alias tiket harian yang bisa dipakai berkali-kali dalam sehari untuk ke kota manapun di Belanda. Tiket ini dijualnya bukan di stasiun, tetapi di jaringan supermarket. Ada banyak jaringan supermarket di Belanda, mulai dari Etos, Albert Heijn, Kruidvaart, dan lain-lain. Nah, tiap bulan mereka gentian ngepromoin Daagkart. Buat tahu bulan ini supermarket mana yang lagi promo daagkart, jangan sungkan nanya :P Saya beruntung ketemu sama salah seorang mahasiswi doctoral Utrecht dari Indonesia, terus dikasih tahu Etos yang lagi promo. Satu daagkart harganya cuma 10 euro, muraaah bangeeet. Sayangnya yang dijual etos ini cuma bisa dipakai weekend, jadi saya cuma beli 2. Terus, saya beli satu daagkart lagi buat hari Senin dari Albert Heijn, harganya cuma 17 euro, bisa dipakai di weekdays. Bermodal 3 lembar daagkart itulah saya ngebolang selama 3 hari dari tanggal 15-17 Agustus.

Daagkart

Berkhayalnya sih pengen eksplor Belanda dari ujung ke ujung, tetapi ternyata waktu satu hari tuh cuma bisa buat berkunjung ke 1 kota aja ya hahaha. Kalo dipaksain, 2 kota sehari bisa koq, tapi butuh energi ekstra buat moving cepat dari 1 tempat ke tempat lain, yang ternyata saya nggak mampu :P

Hari pertama, Sabtu, 15 Agustus 2015, saya ke Giethoorn, sebuah desa di Belanda yang sering dijuluki Venesia-nya Belanda. Daya tarik desa ini terletak pada pesona alamiahnya. Di desa ini, kendaraan bermotor dilarang masuk. Rumah-rumah warga dihubungkan dengan kanal-kanal cantik. Transportasi yang boleh masuk ke desa ini hanya sepeda dan kapal senyap. Istilah kapal senyap tuh maksudnya kapal/perahu/cano yang mesinnya nggak berisik, cuma berdesing lembut. Gak heran, pas nyampe sini tuh rasanya damaaaai banget. Bukan cuma nggak ada polusi udara, tapi juga nggak ada polusi suara.

Untuk bisa mencapai desa ini, dari Utrecht kita harus naik kereta ke Steenwijk, kemudian lanjut naik bis nomor 70, turun di Giethoorn. Pas sampai di stasiun Steenwijk, saya lihat ada counter tiket yang jual tiket PP bis nomor 70 seharga 9 Euro. Jangan terjebak! Soalnya, tarif bis tersebut sekali naik hanya sekitar 2,34 Euro. Jadi, tiket PP harusnya nggak sampai 5 Euro. Karena itu, tips hematnya, jangan beli tiket PP di counter tersebut, lebih baik pakai OV-Chipkaart atau beli langsung di supir bis-nya :) Btw, bis 70 ini termasuknya jarang lewat… Di jadwalnya setengah jam sekali, tetapi kenyataannya lebih dari setengah jam. Untungnya, stasiun Steenwidjk ini termasuk stasiun yang cantik, jadi bisa foto-foto dulu sambil nunggu :p . Udah gitu, ketemu dengan beberapa rombongan orang Indonesia pas di sini. Kalo saya perhatiin, tiap ke museum belum pernah ketemu orang Indonesia, tapi tiap ke objek wisata alam hampir bisa dipastikan pasti ketemu. Emang kayaknya kita (termasuk saya :p ) lebih suka menikmati ciptaan Tuhan langsung ya daripada hasil karya manusia, hehehe. Ngobrol-ngobrol ringan sama mereka. Nanya-nanya rekomendasi tempat beli oleh-oleh yang cihuuyy, terus dikasih tahu : “Di Volendam, mbak. Aduh, saya lupa nama tokonya. Pokoknya nih ya, kalau kita  menghadap begini (si bapaknya mraktekin), kan di sebelah kanan kita laut. Nah, tokonya itu yang kedua dari ujung. Bilang aja rombongan KBRI, nanti dikasih diskon 30%. Rupiah laku di sana, hahaha”. Sayang, sampe pulang saya nggak sempat ke Volendam :( .

Balik lagi ke cerita tentang Giethoorn. Desanya sendiri sih nggak terlalu besar. Cuma butuh waktu 1-2 jam buat ngelilingin seluruh kanalnya. Tapi percayalah, waktu setengah hari pun terasa kurang kalau kita habiskan di desa ini, saking nyamannya :’) .






pardon my face :p

Cakep dan asri bangeeettt kaaan desanya? Di Indonesia, diantaranya di Jawa Barat, sebenarnya ada beberapa kawasan serupa Giethoorn, tetapi setahu saya itu milik korporasi. Kalau di Giethoorn kan bener-bener rumah warga biasa, beruntungnya ya mereka :) Walaupun memang, beberapa rumah di sana sekarang ada yang diubah jadi kafe atau penginapan karena banyaknya turis, tetapi aktivitas warganya masih terlihat cukup alamiah. Oh iya, hati-hati jangan melanggar batas privasi penduduk lokalnya yaa. Kalo foto-foto jangan sembarangan masuk ke pekarangan orang, bisa-bisa nanti diteriakin sama si empunya :P Karena ya itu tadi, pada dasarnya ini rumah warga biasa, bukan cottage.

Keesokan harinya, Minggu, 16 Agustus 2015 saya memutuskan untuk ke pantai. Kepengen liat seperti apa Laut Utara. Tadinya sih pengen ke Scheveningen, pantai Belanda yang paling nge-hits itu. Sayang saat itu di sana lagi muncul Alga Merah sehingga pantai ditutup sementara. Akhirnya saya ngikutin rekomendasinya Maarten, ke Zaandvort Beach. Dibanding Giethoorn, Zaandvort ini lebih dekat. Tetapi, dari Utrecht nggak ada kereta yang langsung ke sana sehingga saya harus ke Amsterdam Centraal dulu, baru lanjut ke Zaandvort. Dari stasiun Zaandvort ke pantainya itu deket banget, jalan kaki cuma sekitar 5 menit. Pas saya ke sana, cuaca lagi dingin-dinginnya. Anginnya pun besar, jadi pantai ini nggak bisa dipakai buat berenang. Kebanyakan pengunjung di sini memanfaatkannya buat olahraga air yang butuh angin besar. Btw, garis pantainya panjaaaaang banget. Dan pasirnya walaupun nggak putih-putih banget, tetapi bersiiiiih dan lembut. Nggak usah kuatir jalan tanpa alas kaki di pantai ini karena aman dari ancaman tutup botol, beling, dan sampah-sampah nggak penting lainnya.



Orang Belanda ke pantai pun pakai sepeda ^_^




Pulang dari Zaandvort, tadinya pengen ke Volendam. Tapi menduung banget, jadi saya batalin. Akhirnya saya cuma jalan-jalan di Amsterdam sekalian cari oleh-oleh. Dibanding di Utrecht, pilihan toko oleh-oleh di Amsterdam lebih banyak dan bervariasi. Pusat oleh-oleh paling terkenal di Amsterdam tuh ada di Flower Market, nggak terlalu jauh dari Centraal Station. Tapi saking nge-hits-nya, saya lihat harganya jadi cenderung mahal. Kalau beli satu atau dua pieces sih nggak kerasa bedanya. Tapi kalau beli banyak, mending cari di jalan-jalan kecil seputaran Centraal Station juga. Untuk barang yang sama, kita bisa dapat harga yang lebih murah, malah di toko yang saya beli mereka ngasih potongan harga juga :D .

Ngebolang hari ketiga, bertepatan dengan hari kemerdekaan, saya ke Wisma Wassenaar, rumahnya Dubes RI di Den Haag. Cerita lengkapnya akan saya posting setelah ini, jadi sementara diskip dulu yaa :) .

Itulah dia cerita 3 hari saya ngebolang di Belanda. Sendirian, nggak ada saudara, nggak ada temen, tapi alhamdulillah aman dan fun-fun ajaaa :D Barangkali ada yang butuh tips backpacker-an di Belanda, ini beberapa tips yang bisa saya bagi :
1.      Booking hostel jauh-jauh hari. Apalagi kalau perginya pas summer. Karena, walaupun bukan weekend, summer itu waktunya libur panjang bagi negara-negara 4 musim. Jadi, banyak backpacker yang manfaatin waktu summer buat ngelancong. Situs searching dan booking hostel ada banyak, bisa digoogling :) Saya waktu itu pakai hostelworld.com . Buat mbandingin harga dari situs-situs lainnya, saya pakai tripadvisor.com . Terakhir, nggak lupa saya juga cek harga di situs resmi hostelnya, karena kadang bisa lebih murah, bisa juga lebih mahal kalau booking langsung di situs hostelnya.
2.      Jangan cuma cek harga. Cek juga review hostelnya. Kita niat jalan-jalan buat having fun kan yaa, jangan sampai malah manyun sepanjang liburan cuma gara-gara penginapannya gak aman. Kalau mau menghemat budget, urusan keindahan hostel bisa diabaikan, toh niat kita bukan mau leyeh-leyeh di hostel. Tetapi, urusan keamanan adalah hal yang mutlak dan gak bisa ditawar-tawar. Cek juga jarak dari hostel ke pusat kota/stasiun, biar ke mana-mana gampang :) .
3.      Packing baju dalam tas terpisah. Kebetulan, sebelum ngebolang ini saya udah tinggal sebulan di Belanda, tepatnya di asrama dengan lemari yang representatif sehingga urusan menyimpan baju nggak susah. Berbeda dengan di hostel. Saya udah ngebayangin kalau di hostel nggak bakal ada lemari. Jadi, saat pindah dari asrama ke hostel, sebagian besar baju saya simpan di koper. Begitu sampai di hostel, koper ini saya titipkan di locker dan nggak akan saya bongkar lagi sampai saya tiba di tanah air. Baju yang masih saya butuhkan untuk ngebolang, saya simpan di tas ransel kecil, yang bisa saya bawa ke kamar hostel :) Praktis, begitu mau check-out nggak repot packing ulang.
4.      Jaman sekarang, colokan listrik itu super penting yaaa :P Masalahnya di hostel, jumlah colokan listrik kadang kurang dari jumlah bed yang ada di kamar itu. Jadi, kalau memungkinkan, mintalah bed dekat colokan listrik biar bisa bebas make-nya. Terus, jenis bed di hostel itu kan biasanya bunk bed (tempat tidur bertingkat). Beberapa orang merasa kurang nyaman kalau tidur di bagian atasnya. Nah, kalau Anda termasuk orang yang seperti itu, saat booking jangan lupa tulis preferensi mau tidur di bagian mana :) . Begitu juga kalau Anda termasuk orang yang anti asap rokok, tulislah preferensi Non-Smoking Room biar gak digabung kamarnya sama para perokok. Memang preferensi ini bukan jaminan semua bakal dikabulin, tergantung ketersediaan tempat juga. Pentingnya booking jauh-jauh hari salah satunya juga ya untuk ini, biar petugas hostel bisa mengatur tempat sesuai yang kita inginkan :) .
5.      Download aplikasi-aplikasi penting yang membantu kelancaran ngebolang kita. Kalau saya pakai :
·         9292 (untuk memandu transportasi yang harus kita pakai dari satu tempat ke tempat lain, lengkap dengan jadwal kedatangan, waktu tempuh, serta biayanya).
·         weather check (untuk mengecek suhu saat ini plus ramalan cuaca. Aplikasi ini super pentiiiiing banget, karena Belanda itu termasuk negara yang cuacanya sering buruk. Lebih baik kalau kita install sebelum berangkat supaya kita bisa memantau tren-nya. Jangan kayak saya, cuma bawa 1 jaket, baru sadar pas nyampe di sini kalau summer di Belanda itu nipu :P )
·         map (tata kota di Belanda relatif rapi. Jadi, baca map Belanda itu nggak akan menyulitkan bahkan buat orang yang buta peta kayak saya :P Kalau mau lebih gampang lagi, bisa install aplikasi map yang ada petunjuk suaranya, jadi kita tinggal ngikutin belok kanan atau kirinya)
·         petunjuk arah kiblat dan waktu shalat (buat yang muslim, karena selama di Belanda kita nggak akan pernah dengar suara adzan)
·         kamus bahasa belanda (ini opsional sih. Seringkali, petunjuk-petunjuk di sana cuma tertulis dalam bahasa Belanda. Jadi, kalau penasaran pengen tahu artinya, sebuah kamus elektronik bisa lumayan membantu. Untuk percakapan sih nggak perlu khawatir, mayoritas warga Belanda lancar berbahasa Inggris dan pelafalan mereka mudah dimengerti)
6.      Kalau Anda termasuk tipe perencana yang harus punya detail itinerary sebelum berangkat, cek-lah tourist attraction masing-masing kota di Belanda. Kota-kota wisata di Belanda setahu saya punya situs masing-masing tentang tourist attraction-nya, lengkap dengan biayanya. Jadwal-jadwal pameran atau pertunjukan juga biasanya dipublish di situs ini. Oh iya, ada beberapa objek wisata yang tiketnya bisa dibooking online sehingga kita nggak perlu ngantri begitu sampai di sana. Bisa menghemat waktu perjalanan juga sih :) .
7.      Untuk transportasi, yang paling hemat pakai Daagkart, bisa dipakai berkali-kali seharian untuk kereta, metro dan beberapa bis (nggak semua bis) . Tapi kalau dalam sehari agendanya cuma mengunjungi satu lokasi yang dekat, lebih baik pakai OV-Chipkaart.
8.      Jangan lupa check-in dan check-out tiap kali menggunakan transportasi apapun di Belanda, dengan kartu apapun :) Mau pakai daagkart kek, mau pakai OV-Chipkaart kek, atau pakai single-card sekalipun tetap wajib check-in dan check-out.
9.      Gimana dengan makan? Harga makanan di Belanda menurut saya nggak mahal-mahal banget koq. Kalau mau yang agak fine-dining, sekitar 20 Euro udah dapet menu lengkap dari appetizer, main course, sampe air mineral (saya cuma sekali sih yang model ginian hahaha, dan gak pakai dessert :P ). Kalau mau yang sederhana dan bisa dimakan sambil jalan, ada kebab yang harganya sekitar 3-4 euro. Masih terlalu mahal? Buat ngganjel perut, ada juga patat (kentang goreng) atau roti yang harganya sekitar 1-2 euro. Masak di hostel juga bisa, belanja-nya bisa di minimarket yang tersebar di mana-mana, dan ini jatuhnya jauuuh lebih murah (waktu di dorm saya masak, tapi di hostel saya belum pernah nyoba masak jadi nggak tahu seperti apa peralatan makannya).

Kesan saya selama 3 hari ngebolang sendirian di Belanda : Aman :D Nggak pernah dipalak preman di jalan, tempat-tempat wisatanya gampang diakses kendaraan umum, orang-orang di jalan gak pernah keberatan kalau ditanya-tanya, pokoknya sama sekali gak ngerasa takut selama 3 harian itu. Cuma saya nggak tahu gimana kalau malam ya. Soalnya saya ngebatasin diri sendiri, jam 6 udah stand-by di hostel lagi walaupun masih terang benderang. Gak kuat sama udara dinginnya hehehe. Lagian di Belanda mayoritas toko, kafe, dan tempat wisata udah tutup jam 5 sore, kecuali kalau hari Kamis mereka banyak yang buka sampai jam 8 malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar