Kamis, 23 Juli 2015

The Journey Starts Here...

Setelah heboh dengan urusan mengambil visa, alhamdulillah hari-hari berikutnya berjalan normal. Dua agenda besar : Idul Fitri dan keberangkatan ke Belanda membuat waktu terasa berjalan sangat cepat. Ribet dan capek? Pasti. Tapi bahagia :) :) Bahkan fakta kalau ada kemungkinan saya harus berangkat tepat di hari raya Idul Fitri pun nggak bikin saya manyun. Yup, mengenai waktu perayaan Idul Fitri, saya memang masih menunggu hasil sidang itsbat pemerintah. Kemungkinannya ada 2, Idul Fitri jatuh tanggal 17 Juli atau tanggal 18 Juli. Sementara, pesawat saya dijadwalkan tanggal 18 Juli jam 6 sore. Dari Cirebon, saya sudah booking tiket kereta jam 10 pagi. Jadi, andai lebaran jatuh tanggal 18 Juli, saya masih sempat sih solat Id di rumah, tetapi nggak akan sempat salam-salaman dengan tetangga karena harus langsung mengejar kereta. Tapi tapi tapi, ternyata hasil sidang Itsbat menetapkan lebaran jatuh tanggal 17 Juli. Alhamdulillah masih bisa menikmati momen lebaran sepenuhnya :)

Malam harinya, saya cek ulang semua barang bawaan.  Untuk pakaian, sengaja kebanyakan yang saya bawa adalah bahan kaos atau rajut yang lebih aman dari risiko kusut. Jumlahnya cukup untuk satu minggu. Plus, tambahan 1 jaket untuk di pesawat. Cerobohnya, saya gak mengecek dulu suhu di Belanda sebelum berangkat. Saya pikir karena Summer, selama di sini nggak akan perlu jaket. Setelah sampai di Belanda saya baru tahu kalau suhunya antara 170 C - 200 C yang buat ukuran saya dingin bangeeeettt. Untunglah selain pakaian, saya sudah siap tempur dengan obat-obatan seperti parasetamol, minyak kayu putih, dan jamu cair yang katanya buat orang pintar itu (bukan promo : jamu selalu jadi andalan saya tiap bepergian :p ).


Untuk makanan, walaupun kabarnya di Belanda tidak sulit mencari makanan halal,tetapi saya sempat terpikir untuk membawa banyak. Pengen bawa beras, sarden, rendang kaleng, nugget, dan kawan-kawannya. Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya bakal over-baggage kalau saya bawa semua. Akhirnya, saya hanya membawa 4 kaleng sarden dan mie instant untuk persiapan barangkali di hari-hari pertama masih jetlag sehingga belum bisa berburu makanan (dan ternyata hal ini gak terjadi, sardennya masih utuh sampai sekarang, wkwkwk). Oh iya, nggak lupa, saya membawa buku Negeri Van Oranje juga buat panduan selama di sini :D Yang nggak kalah penting adalah packing dokumen. Untuk passport, saya menyimpannya di tas leher biar aman. Dokumen-dokumen lain yaitu tanda bukti booking pesawat, tanda bukti booking transportasi dan akomodasi, LOA, pre-departure information, serta itinerary semua saya print 2x. Satu saya simpan di ransel, satu lagi saya simpan di koper. Jadi, saya masih punya cadangan kalau hilang di jalan atau tertinggal. Tentu saya juga menyimpan softcopy-nya di email sebagai cadangan tambahan. Siap tempur banget yak? Hahaha, maklum, ini pertama kali ke Eropa, dan sendiri pula! :D

Jam 10 pagi, kereta berangkat dari Cirebon menuju Jatinegara, Jakarta. Sekitar jam 1 siang, kereta sampai. Solat dzuhur dan makan dulu di stasiun. Setelah itu langsung menuju bandara. Tumben-tumbenan, tol arah bandara lancaaarrr (ya iyalah, lebaran :D ). Nggak sampai 1 jam sudah sampai di terminal 2 bandara Soekarno Hatta. Efeknya jadi nunggu agak lama untuk check-in dan boarding. Gak papa lah, daripada harus lari-lari ngejar pesawat, mending korban waktu untuk nongkrong-nongkrong cantik dulu di bandara. Tepat jam 4, saya masuk ke ruang check-in, jam setengah 6 boarding, lalu tepat jam 18.15 pesawat take-off. Semua prosesnya alhamdulillah lancar-lancar aja, termasuk di imigrasinya. Oh ya, pesawat yang saya naiki ini nggak langsung ke Amsterdam, tapi transit dulu di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Pesawat mendarat di KLIA sekitar jam 10 malam. Dan bandara yang satu ini gedeee banget. Buat pindah dari satu gate ke gate lain yang sebenarnya masih 1 terminal aja kita musti naik tram. Lumayan mengirit tenaga hahaha. Ngomong-ngomong, saya belum pernah ke Malaysia sebelumnya, jadi saya baru tahu pas di KLIA ini kalau ternyata kita gak sekufu sama negeri Jiran dalam hal colokan listrik, uwuwuu, mereka pakai colokan kaki tiga. Otomatis, saya jadi nggak bisa numpang nge-charge hp di sana. Gadget lowbat di jalan itu persoalan besar banget, apalagi jalan sendirian. Daripada krik krik krik karena gak bisa browsing atau menghubungi keluarga dan teman di tanah air, akhirnya saya memutuskan untuk cuci mata di shopping-centre bandara sambil nunggu waktu boarding. Sekitar jam setengah sebelas, panggilan boarding menggema. Alhamdulillah, di imigrasi Malaysia pun oke-oke saja. Selanjutnya, bersiap untuk penerbangan panjang. Tiga belas jam cyiiiiiiin. Terakhir kali saya naik kendaraan sampai berbelas-belas jam itu pas pergi dari Kediri ke Jakarta, naik kereta. Waktu itu padahal perginya rame-rame banget. Harusnya kan nggak kerasa karena asyik ngobrol. Tapi ternyata, tetep aja sampai rumah badan nagih buat di-Spa. Weiiits, kalo nanti turun dari pesawat di Amsterdam kayak gitu juga, di sana Spa masih affordable kan yaaaa? *ngarep.

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Kayaknya karena saking antusiasnya, perjalanan 13 jam itu jadi nggak kerasa. Pesawat mulai persiapan mendarat bertepatan dengan matahari terbit.Dalam hati : Masyaa Allah, bisa lihat matahari terbit di langit Eropa…. Nikmat mana lagi yang hambaMu ini bisa dustakan? Berasa keciiiiil banget. Makasih yaa Allah buat kesempatan yang luar biasa ini. Makasih juga Nuffic-Neso Indonesia dan tim penulis Negeri Van Oranje yang menjadi perantara sampainya rezeki ini ke saya. Makasih, makasih, makasih :* .

Sempat ada turbulensi sedikit menjelang mendarat, tetapi alhamdulillah pendaratan berjalan mulus. Europe, here I am !!! Keluar dari pesawat, masuk ke ruangan kaca, dari situ kelihatan pesawat-pesawat punya maskapai Belanda, KLM, lagi parkir. Ngelihat begituan aja, langsung senyum lebar norak, huaaaa beneran di Eropa nih gue. Penumpang-penumpang lain yang satu pesawat dengan saya banyak yang mengambil foto di ruang kaca itu. Saya? Cuma bisa melirik sedih ke gadget yang sedang meminta istirahat alias lowbat. Sebenarnya di ruang itu saya melihat ada colokan nganggur, tapi nggak ada keterangan bahwa itu boleh dipakai umum dan nggak ada satupun petugas yang bisa ditanyai. Teringat di tanah air banyak kasus orang diperkarakan hanya karena sembarangan memakai listrik di tempat umum, saya pun memilih untuk tidak memakainya. Memalukan nama bangsa dan negara banget, kalau sampai dideportasi cuma gara-gara nyolong listrik :P .

Berhubung nggak bisa foto-foto di ruangan kaca itu, saya langsung aja jalan ke counter pengambilan bagasi. Setelah itu, checking imigrasi. Ngantri di barisan Non-UE Passport. Lagi-lagi alhamdulillah, nggak ada kesulitan. Pertama, cuma ditanya mau ngapain di Belanda. Saya jawab, “Taking some short course”. Petugasnya nanya lagi, “Where? Do you have any document which is explained about that course?”. Saya pun langsung mengeluarkan Letter of Acceptance yang udah siap sedia di ransel, sambil menjawab, “In Utrecht. And please, this is my LOA”. Si petugas baca sebentar dokumennya, lalu sambil bersiap-siap menyetempel passport, si petugas nanya lagi, “Well, then. You are alone or together?”. Saya mencoba senyum semeyakinkan mungkin dan menjawab mantap, “Alone”. Si petugasnya balik senyum, “Okay, here your passport is. Safe trip”. Yayyyyy, lolos…

Selesai dari meja imigrasi, saya langsung mencari-mencari meja informasi buat nanya dua hal. Satu, letak mushola karena saya belum solat subuh. Dan dua, letak charging station. Anyway, saya berani nanya letak mushola di sini karena saya dengar orang-orang di Belanda sangat welcome terhadap umat Muslim. Dan kebetulan sebelum mendarat, di pesawat Malaysia Airlines yang saya naiki sempat diumumkan bahwa salah satu fasilitas yang tersedia di Schiphol adalah prayer-room. Jadi saya pede aja nanya ke petugas informasinya, “Excuse me. May I know, is there any mosque near here?”. Bener aja, petugasnya menyambut ramah, “Do you have plan to fly today?”. Saya menjawab, “No, I don’t. Actually, I just landed here. And I got the information from my flight before that there is a prayer room in this airport. May I know where is it?”. Sayangnya, si petugas bilang, sambil tetap menjaga intonasi ramahnya “Ya, you’re right. We have a mosque. But, the location is right after the immigration checking. The mosque is in the boarding room. So, if you have the boarding pass, you can get into there. But, if you don’t, I’m sorry we don’t have other mosque around here”. Ya sudahlah ya, Jakarta-Eropa yang jaraknya ribuan kilometer kan udah dapat hak titel musafir. Solat subuhnya nanti aja kalau udah sampai Utrecht. Lanjut ke pertanyaan ke dua, “Oh okay, no problem. But, I have one question more, please. Do you have any charging station?”. Si petugasnya bilang gini dengan ekspresi bingung, “Excuse me. Charging station???” . Waduh, salah istilah nih gue. Apa yak bahasanya mereka colokan listrik buat nge-charge. Akhirnya saya coba jelasin sedikit agak panjang, “Ya… I mean, I need to charge my handphone because it is low battery now. Maybe, is there any electricity source which I can use for free?”. Di Eropa, yang apa-apa mbayar, penting banget itu ditambahin kata free-nya :P. Dan alhamdulillah, sekarang petugasnya ngerti, “Ooooh, I see…. You can go to the toilet, and you’ll find some of electricity soures there. You can plug your handphone there. And it’s free”. Horeee,ternyata ada. “Thank you,thank you very much.” Langsung ngibrit ke toilet wanita terdekat, setengah jam nge-charge hp di sana, lumayan dapat 50% baterai.

Setelah hp nyala, yang saya lakukan berikutnya adalah mencari wifi untuk menghubungi keluarga di rumah. Selesai memberi kabar, saya lalu mengikuti papan penunjuk arah menuju ke stasiun kereta bandara. Berdasarkan petunjuk dari pre-departure information yang diberikan pihak kampus, untuk mencapai Utrecht saya harus naik kereta dari bandara. Keretanya ada setiap setengah jam sekali kalau nggak salah. Saya ke stasiun untuk melihat-lihat situasinya terlebih dahulu. Oh, okee, antrian tiket ternyata nggak panjang, dan untuk turun ke underground tersedia lift, jadi tidak akan makan waktu lama. Dengan kondisi seperti itu, saya memutuskan untuk nggak langsung ke Utrecht, karena toh hari masih sangat pagi sementara Summer School Office baru buka jam 12 siang. Saya memutuskan untuk menjalankan misi berikutnya. Apalagi kalau bukan membuat dokumentasi sebagai bukti otentik bahwa saya sudah sampai di Belanda !!! :D Spot foto-foto pertama yang saya tuju adalah tulisan Schiphol Airport di bagian depan. Pintu keluar bandaranya nggak jauh dari stasiun kereta. Langsung saja saya menuju ke sana. Dan betapa kagetnya saya ketika keluar, brrrrrr, ternyata udara begitu dingin. Langitnya pun berawan, agak gelap. Saya cek live weather di hp, ternyata 170 C. Are you sure it is SUMMER, dear Amsterdam? :)))) .

Walaupun dingin, niat foto-foto nggak boleh dihapus. Buat laporan ke Neso ! *alasan, padahal buat koleksi pribadi juga wkwkwk. Dan inilah saya di depan Schiphol Airport.



Puas foto-foto di sini, spot yang menjadi target saya selanjutnya adalah tulisan I Am Sterdam. Seperti yang Taufik ( juara kedua Holland Writing Competition) bilang di sini, nggak sah rasanya ke Amsterdam kalo belum foto di depan tulisan itu. Bedanya, kalau Taufik memilih icon I Am Sterdam yang ada di di depan Rijkmuseum, saya nggak mau susah-susah, foto yang di bandara aja hahaha. Bentuk dan dimensinya sama koq. Jadi, icon ini memang ada di beberapa tempat di Amsterdam. Ada yang letaknya menetap, ada juga yang sengaja dipindah-pindahkan. Well, dipikir-pikir orang bule tuh kreatif abis ya. Cuma dengan membuat icon kota berbentuk tulisan seperti itu sudah mampu mengundang banyak orang untuk mendatanginya. Sebuah tourist attraction yang modal untuk membangunnya nggak seberapa, tapi sukses menjadi landmark. Berhubung saya datang sendiri (karena Taufik udah berangkat dari tanggal 10 Juli), jadi nggak ada yang memfotokan dan gak bisa bebas pose (padahal aslinya gak jago pose juga, wkwkwk).




Misi untuk membuat dokumentasi sudah terpenuhi. Masuk lagi ke stasiun bandara, beli voucher OV-Chipkaart. Eitss, jangan salah duga ya, OV-Chipkaart ini bukan kartu perdana untuk hp, melainkan kartu untuk transportasi di Belanda. Kartu ini multi-fungsi, bisa untuk naik kereta, bis, maupun tram yang dikelola oleh perusahaan transportasi nasional di Belanda dan bisa digunakan di seantero Belanda (koreksi plis kalo saya salah). Alhamdulillah, waktu masih di tanah air, teman kampus saya yang bernama Bakhtiar dan kebetulan sudah pernah ke Belanda menghibahkan OV-Chipkaart miliknya. Jadi, di sini saya nggak perlu lagi membeli kartunya, tinggal mengisi ulang saja. Thank you Bakh :D . Isi ulang pertama yang saya lakukan adalah 50 Euro. Berharap itu cukup untuk 4 minggu tinggal di sini *ngarep.

Selesai mengisi ulang, saya bertanya ke petugas stasiun bagaimana cara menggunakannya karena mesin yang tersedia di sana semuanya berbahasa Belanda -____- . Ternyata gampang koq.Saya hanya perlu men-tap (menempelkan) kartu tersebut ke mesin yang berbentuk seperti tiang berukuran sepinggang orang dewasa saat mau masuk. Itu bukti check-in yang menunjukkan dari stasiun mana saya naik. Selanjutnya, petugas menjelaskan kalau nanti sudah sampai di stasiun tujuan, saya harus men-tap kembali ke mesin yang sama yang ada di sana, sebagai bukti check-out. Di stasiun tujuan itulah nantinya saldo OV-Chipkaart saya akan berkurang, sesuai jarak tempuh yang saya ambil. Prinsipnya, hampir sama dengan KRL kita sekarang yaaaa… Tapi dengan harga yang lebih mahallll -__- . Kalau nggak mau repot check-in dan check-out, bisa juga lho membeli single-ticket untuk sekali jalan. Harga single-ticket ini sama koq dengan kalau kita memakai OV-Chipkaart. Hanya saja, untuk mereka yang sering menggunakan moda transportasi umum mungkin akan sedikit merepotkan kalau pakai single-ticket karena harus antri setiap kali dia akan bepergian. Padahal, kita tahu budaya orang di sini sangat menghargai waktu. Dengan alasan itu, OV-Chipkaart dinilai lebih praktis :D.



Selanjutnya, saya turun ke bawah tanah tempat rel kereta berada. Kereta yang mau saya naiki pas banget udah menunggu. Berhentinya nggak lama. Sambil tergopoh-gopoh, saya tanya ke petugas di situ : “Is it train to Utrecht?”. Si petugasnya teriak dari atas kereta, “Yaaaa”. Saya nanya lagi, “Direct?” (maksudnya nggak pakai transit, gitu… ). Dan si petugas teriak lagi, “Yaaa… please be hurry”. Okeh okeh… saya buru-buru naik. Interior kereta di dalamnya sangat nyaman. Kursinya hampir setara kursi kereta kelas eksekutif di Indonesia, padahal itu kereta kelas 2, yang paling murah. Untuk Schiphol-Utrecht Centraal yang hanya berjarak 30 menit harga tiketnya 8.35 Euro (setara 120 ribu lebih). Worth it sih dengan fasilitas senyaman itu. Karena saya bawa koper besar, saya pilih duduk di tempat yang masih belum ada teman di sampingnya, dan dekat dengan pintu, biar mudah untuk keluar. Sepanjang jalan Schiphol-Utrecht, mata saya nggak berhenti memandang ke luar jendela, memperhatikan tatanan kota yang konon katanya masuk jajaran kota rapih di dunia. Dan memang gelar itu nggak salah. Sepanjang jalan saya melihat kotanya tenaaaang banget. Boro-boro macet, mobil melintas aja jarang. Kemudian, saat melewati kanal besar, saya melihat beberapa kapal boat melaju santai. Ya Allah, berasa ada di negeri dongeng. Pemandangan yang belum pernah saya temui di daratan Pulau Jawa.


Kereta pun terus melaju, membawa saya menuju Utrecht. Then, the journey starts here…. 

2 komentar:

  1. keren mbak..(y).Lanjutin ceritanya,mbak.. :)

    BalasHapus
  2. saya sudah 4 tahun mba menunda ikut ini, sejak masih kompetiblog... do'a-kan lain kali bisa menyusul ya mba :)

    BalasHapus