Jumat, 24 Juli 2015

Starting Utrecht Summer School 2015



Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit dengan kereta dari Bandara Schiphol , sampailah saya di Stasiun Utrecht Centraal. Alhamdulillah, tanpa kesasar. Bener sih emang, sistem transportasi di Belanda rapi dan informatif banget. Di dalam gerbong kereta ada layar LCD yang menunjukkan posisi kereta saat itu dan berapa lama waktu sampai ke stasiun berikutnya. Dengan info ini, saya yang bawa barang banyak jadi bisa ancang-ancang menjelang kereta berhenti di Utrecht.

Pas di stasiun Utrecht ini mulai agak rempong. Turun dari kereta, celingak-celinguk nyari lift nggak keliatan. Hanya terlihat eskalator tipe tangga berundak, bukan tipe trolley-friendly. Agak kurang nyaman buat bawa koper, tapi berhubung nggak ada lagi akhirnya saya pakai eskalator itu untuk keluar dari bawah tanah. Begitu sampai di ground, nggak lupa saya check-out di mesin OV-Chipkaart.

Sebenarnya saya agak bertanya-tanya kenapa mesin check-out nya tidak diletakkan pintu keluar saja, malah tersebar di sudut-sudut. Dengan posisi penempatan seperti itu, sangat mungkin penumpang kereta nyelonong begitu aja : keluar dari stasiun tanpa check-out. Saya salut karena hal ini menunjukkan betapa tingginya tingkat kepercayaan yang diberikan perusahaan transportasi OV kepada para pengguna jasanya. Secara tidak langsung, ini juga menunjukkan budaya jujur di sana sudah relatif tinggi sehingga dapat diberi kepercayaan sebesar itu. Namun, di sisi lain, buat masyarakat pendatang yang belum terbiasa, penempatan seperti ini riskan resiko lupa untuk melakukan check-out. Nah, kalau pas lupa dan kebetulan ada control-check, siap-siap merogoh Euro lebih buat denda :))) . 

Dari Stasiun Utrecht saya naik bis Line 28 menuju Summer School Office. Bayar bis-nya juga sama, pakai OV-Chipkaart. Mesin check-in dan check-out nya ada di dalam bus, tepatnya di samping pengemudi. Kalau nggak punya OV-Chipkaart, bisa beli cash tiketnya sama pak supir :) .

Mesin OV-Chipkaart di bus


Kurang dari lima menit kemudian, nyampe deh di halte tujuan, halte Janskerhof. Saya pegang kertas pre-departure information. Di situ tertulis, office terletak di sebuah bangunan berwarna putih, dan lokasinya tepat di samping gereja Janskerhof. Aha, dari halte itu udah keliatan ada menara yang seperti gereja. Pasti di sana tempatnya ! Nggak pikir panjang lagi, saya langsung jalan santai ke arah sana. Tapi, begitu sampai di situ, di sebelahnya nggak ada bangunan putih. Kayaknya salah gereja nih.
Yang tinggi itu menara Gereja yang pertama kelihatan. Belakangan, saya baru tahu ternyata itu Dom Tower !


Suasana sekitar waktu itu masih sepi. Seperti masih subuh kalau di Indonesia, padahal udah jam 11. Berhubung nggak ada orang lewat yang bisa ditanyain, akhirnya saya coba jalan santai aja muterin kompleks sekitar situ. Berharap ada papan penunjuk arah atau apa kek yang bisa dijadiin patokan. Nggak lama, pas mau nyebrang kembali ke halte Janskerhof, saya ngelihat serombongan gadis seumuran saya, dengan wajah Melayu, lagi sibuk nggeret-nggeret koper juga. Bener ya, ketemu teman serumpun di negeri orang itu berasa ketemu saudara. Saya langsung pasang senyum lebar, mereka langsung pasang senyum lebar.

“Hi, where are you going?”, salah satu dari mereka menyapa saya.
“Hello. I’m looking for Summer School Office.. Utrecht Summer School Office.. Do you know where is it? Anyway, are you all from Indonesia?”
“Yeah, I know. By this way… and then you turn right. You’re from Indonesia? I’m from Singapore, and she is from Malaysia. Eid Mubaraak..”


Dan percakapan langsung ngalor-ngidul sampai akhirnya berujung ajakan ngopi bareng karena masih ada waktu untuk menunggu office-nya buka. Udara Utrecht yang dingin pagi itu seketika menjadi hangat dengan segelas kopi dan serombongan teman-teman baru :’) . Bergabung juga bersama kami seorang peserta laki-laki dari Jerman. Daaan, gak disangka-sangka, ada juga 2 peserta laki-laki dari Indonesia. Mereka berdua berangkat dengan biaya sendiri, bukan disponsori Neso.

Yang lucu, di hari pertama saya nyampe di Belanda ini, saya langsung membuktikan kebenaran cerita di novel Negeri Van Oranje. Yaitu, tentang betapa melegendanya rokok keretek khas Indonesia. Lucu aja sih, waktu salah satu peserta laki-laki dari Indonesia itu menyalakan rokok kereteknya, dia langsung dihampiri seorang Negro yang sepertinya pengangguran setempat dan dipalak rokok. Well, ini kejadian yang agak kurang mengenakkan. Semacam early warning bagi saya untuk tetap berhati-hati karena ternyata di kota yang kelihatannya damai inipun ada premannya. Untung yang diincar cuma rokok,bukan barang-barang berharga. Dan untungnya lagi, si orang Indonesia yang dipalak ini easy going. Kami kembali ketawa-ketiwi, menghabiskan waktu menunggu Summer School Office buka.


Summer School Office dan Gereja Janskerhof


Saat office sudah buka, kami langsung registrasi. Di sana, kami dibagikan kunci flat masing-masing. Saya dapat flat di Cambridgeslaan yang lokasinya di kompleks Fakultas Kedokteran Universitas Utrecht. Teman saya yang dari Malaysia, Lyana, yang kebetulan satu course juga mendapat flat yang sama. Sementara yang lain, tersebar di flat berbeda karena course yang diambil juga berbeda. Setelah menerima kunci, kami diberi tahu cara menuju flat. Lalu, kami juga dibagikan paket yang isinya macam-macam. Mulai dari buku diktat, buku tulis, ballpoint, sprei, sampai sim-card GSM Lokal. Waaahh, asyik nih ada SIM Card. Jadi nggak tergantung sama Wifi doang. Selain itu, kami juga menerima booklet kupon diskon di sejumlah tempat hang-out di Utrecht. Ada diskon untuk di kafe, restaurant, museum, game-centre sampai wall-climbing. Semoga nanti sempet nyobain!

Paket Buku

Kupon Diskon dan SIM Card GSM Lokal

Bagi-bagi paket selesai. Kami langsung bergegas ke flat. Udah kangen kasuuuur.


Flat Cambridgelaan (source : here )

Sesuai yang dijanjiin di awal, fasilitas flat di sini lengkaaap banget. Luas kamarnya sekitar 17 m2, buat dihuni 1 orang. Di dalamnya ada tempat tidur, meja belajar lengkap dengan internet cable, lampu belajar, dan paper-tray, ada juga lemari, rak buku, meja rias, wastafel, kursi malas, jemuran, dan pemanas ruangan. Ini foto-foto beberapa sudut di kamar :)





Yang paling saya suka banget, pemandangan dari jendela kamarnya. Hijau bangeeetttt :D



Kamar mandi dan toiletnya dipakai bersama untuk 3 orang. Dapurnya, super lengkaaaap. Satu orang dapat satu lemari es di dapur. Kompor gas ada 4 tungku. Microwave, coffee maker, water heater, mixer semua tersedia dan siap pakai. Printilan-printilan kecil seperti sodet, aneka pisau, sampai pengocok telur juga ada. Representatif buat masak besar ini mah.

Teman satu flat saya bernama Anna dari China dan Clora dari Taiwan. Sementara di flat sebelah yang masih terhubung pintunya dengan flat kami ada Paulina dari Meksiko, Sunny dari Taiwan, dan satu lagi sampai sekarang saya belum kenalan.

Besoknya, course dimulai. Ayeeyyyy. :D

Sekitar jam 9 saya keluar dari flat. Lyana mengajak ke kelas bareng. Dari flat ke kelas, kita naik bis Line 28 lagi.


Lyana & Me


Bus Line 28


Sampai kelas, ternyata dosennya sudah stand-by. Padahal kelas pertama dimulai jam 10. Suasana kelasnya nggak jauh beda dengan di Indonesia. Ada layar LCD untuk presentasi, komputer, dan white board. Tapi, di sini tempat duduk antar mahasiswanya sangat berdekatan. Entah, kebetulan kita dapat ruangan kecil atau memang sengaja didesain seperti ini. Tapi, hal ini membuat suasana belajar lebih intens sih karena jarak antara dosen dan mahasiswa juga jadi dekat.


Bapak Dosen : Maarteen Paulusse, M.A.


Mayoritas peserta course di kelas saya orang Asia. Total peserta ada 26 orang. Hanya 1 yang dari Meksiko (Paulina) dan 1 dari Belgia (Mieke). Sisanya berasal dari Asia, yaitu Malaysia, China, Taiwan, Korea, dan Hongkong. Saya satu-satunya yang berasal dari Indonesia.


Makan siang waktu break


Suasana kelasnya sangat menyenangkan. Biarpun saya nggak terlalu mengerti sejarah dan sosiologi, tetapi cara dosen membawakan materinya sangat menarik. Banyak isu-isu sensitif dibahas di kelas, termasuk tentang agama di Belanda. Saya suka cara penyampaiannya. Tidak tendensius, tidak terkesan mendoktrin, sehingga kami sebagai siswa juga merasa nyaman mengungkapkan pendapat dari sudut pandang berbeda. Misal, saat dijelaskan tentang perkembangan Gereja di Belanda, di mana saat ini banyak Gereja di Belanda yang kehilangan jemaatnya hingga akhirnya diubah menjadi museum. Paulina, yang berasal dari Meksiko, mengungkapkan pendapatnya. Ia mengaku kaget dengan kondisi di Belanda karena di Meksiko sendiri spiritualitas Katolik masih melekat erat. Ia mengaku agak jengah saat melihat relic-relic menjadi barang pameran di museum, padahal di gereja Meksiko barang-barang itu masih dianggap sakral dan disembah. Masih banyak lagi interupsi-interupsi lain yang menarik, yang merupakan input baru bagi saya. Jujur, saya selalu senang mendengarkan orang bercerita tentang bagaimana agamanya, bagaimana budaya di daerahnya, karena hal itu akan membuat saya lebih memahami mereka.

Jika Paulina kaget dengan kondisi Gereja di Belanda, saya juga kaget dengan kondisi Masjid di sini (Belanda –Pen). Saya baru tahu kalau pemerintah Belanda pernah melarang berdirinya masjid Ahmadiyyah karena desainnya tidak seperti masjid kebanyakan. Hal ini dianggap berpotensi menimbulkan pertentangan dengan Muslim mayoritas. Bagi saya, fakta ini istimewa sekali. Ini menunjukkan perhatian pemerintah Belanda terhadap kerukunan beragama sangat tinggi. Hal-hal yang berpotensi menimbulkan friksi sudah dicegah dari awal. Namun, pencegahannya bukan dengan cara mengucilkan. Jamaah Ahmadiyah tetap diizinkan membangun masjid sepanjang desainnya mau mengikuti mayoritas. Kita yang mengaku memiliki pasal 29 UUD 1945 tentang toleransi umat beragama mungkin harus belajar banyak dari Belanda. Saya bukan jemaat Ahmadiyyah, namun saya juga merasa sakit saat mendengar banyak jemaat Ahmadiyyah di Indonesia yang terusir dari rumah dan tempat ibadahnya karena ulah main hakim sendiri warga sekitar. Di sini, pemerintah seharusnya bisa berperan lebih aktif untuk memediasi, mencari jalan tengah, karena bagaimanapun mereka warga negara kita.

Sungguh, Utrecht Summer School ini benar-benar perjalanan yang memperkaya wawasan :) .



4 komentar:

  1. summer coursenya ttg apa sih? berapa lama?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mbak Vita... maaf baru balas ^^ course-nya ttg Dutch Culture selama 4 minggu

      Hapus
  2. That's my lecturer too when in 2013. Ambil course apa? Btw, have fun yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beliau ngajarnya enak hehehe. Kemarin dpt 2 course, History & Art sama Society & Current Issues . Had a great time bangeet selama di sana :D

      Hapus