Selasa, 28 Juli 2015

Weekend di Centrum Utrecht

Setelah lima hari mengikuti kelas Dutch Culture di Utrecht Summer School, saya menanti-nanti banget datangnya akhir pekan. Karena dalam lima hari itu jadwal kelas lumayan padat, yang efeknya bikin saya cuma bisa bolak-balik asrama-kelas, asrama-kelas… Duh, itu booklet pariwisata Utrecht udah manggil-manggil banget.. Weekend, segeralah tiba, Nak… :P

Ndilalahnya, Sabtu, 25 Juli 2015, cuaca di Utrecht seharian buruk sekali. Terjadi badai kecil seperti yang telah diramalkan. Alhasil hari itu kami semua terjebak di flat. Tetapi, semua hal memang mengandung hikmah. Gara-gara badai, kami jadi fokus mengerjakan tugas kelompok sampai selesai. Coba kalau nggak badai, kami pasti lebih memilih keluar, dan tugas kelompok terabaikan, wkwkkwk.

Minggu pagi, alhamdulillah langit kembali bersahabat. Okeeeh, sekarang saatnya mengeksplor pusat kota Utrecht :) . Di Belanda, pusat kota dikenal dengan istilah Centrum. Biasanya di situ ada stasiun kereta, pusat perbelanjaan, dan kafe-kafe outdoor. Laaah gak jauh beda sama Jakarta? Hihihi, nggak dong. Soalnya, di sini, sepanjang centrum mengalir juga kanal-kanal besar yang masih aktif. Jadi, sambil jalan santai nih, kita bisa melihat juga aneka perahu berseliweran. Mulai dari motorboat, cano, sampai perahu sepeda juga ada. Hal yang jarang kita lihat tuh entah kenapa kesannya romantis yaa, hahaha.


Salah satu perahu yang menyediakan layanan meal in the boat.


Di atas kanal, sepeda diparkir berjejer. Di samping kanal, kafe-kafe outdoor bertebaran.


Sebelum ke centrum, saya mampir dulu ke Summer School Office. Di sini, saya beli buss-pass. Saya memang masih memegang OV-Chipkaart, tapi dalam rangka pengiritan (hahaha), saya lebih suka pakai buss-pass ini untuk transportasi di dalam kota Utrecht. Kalau pakai OV-Chipkaart, saldo saya akan terpotong 1,49 Euro sekali naik bus. Itu artinya, untuk keperluan bolak-balik asrama-kelas-asrama selama lima hari (Senin-Jumat), saya harus menyediakan saldo OV-Chipkaart sebesar 14,9 Euro. Untuk 10 hari, tinggal dikaliin 2 aja, totalnya jadi 29,8 Euro. Itu baru bolak-balik asrama-kelas-asrama aja lhooo. Belum ngitung kalo saya pengen melipir ke tempat lain. Sementara, kalau saya pakai buss-pass, harganya cuma 32,5 Euro. Sedikit lebih mahal 2,7 Euro memang. Tapi, dengan harga segitu, saya bebas muterin Utrecht sekenyangnya dalam waktu 24 jam selama 14 hari, termasuk weekend. Lumayan lah yaaa, selisihnya bisa dialihkan buat keperluan lain. Saldo di OV-Chipkaart rencananya cuma akan saya pakai untuk transportasi ke luar Utrecht :D .


Selesai beli buss pass, saya lihat di depan Summer School Office ada pedagang yang lagi menggelar dagangannya. Kalau hari kerja, saya nggak pernah melihat pedagang ini nih. Berarti, pedagang musiman eksis juga yak di Belanda :D . Barang dagangannya juga unik : kaset piringan hitam. Dan yang ngerubutin dagangannya, kebanyakan opa-opa :D .

"Growing old doesn't mean stop entertaining yourself", he said :D


Bergerak ke arah kanal, saya lihat ada icon pajangan di bawah ini nih…



Itu adalah logo Grand-Depart, sebuah kompetisi sepeda tahunan yang baru saja digelar di Utrecht dua minggu sebelumnya. Huhuhu, sayang banget waktu itu saya belum nyampe sini. Konon kabarnya, kompetisi ini diikuti ratusan pesepeda, nggak cuma dari seantaro Belanda, tapi juga dari negara-negara lain. Biarpun kompetisinya udah selesai, tapi icon-nya masih dipajang. Dan masih banyak warga Belanda yang foto-foto di situ. Kelihatannya, acara itu jadi kebanggaan mereka banget deh !

Setelah itu saya melewati toko keju. Pada dasarnya, keju adalah salah satu makanan favorit saya. Tapiiiii, to be honest, sampai sekarang saya belum tertarik buat mencicipi keju tradisional Belanda. Baunya aja udah lumayan menyengat dari jauh. Bayangan saya, rasanya pasti bakalan weird banget. But someday before going home, I’ll must try a little bit just to kill my curiosity.

Ukuran keju-nya hampir sama dengan loyang pizza yang large size


Saat lagi jalan santai, tiba-tiba melintas sekelompok orang lagi karnavalan. Waktu itu nggak siap kamera, jadi cuma kebagian nge-capture buntutnya. Padahal, kostum mereka seru-seru. Saya iseng tanya ke bapak-bapak yang berdiri di samping saya, itu karnaval apa. Sayang beliau nggak tahu. Malah bilang, “I think it is not a kind of religious thing”. Hihihi, mungkin bapaknya mengira orang pakai jilbab cuma tertarik sama hal-hal yang berbau relijius aja yaaa.

Kayaknya mah ini semacam cosplay


Habis itu, waktu saya habiskan dengan masuk dari satu toko ke toko lain. Biarpun nggak seramai Rotterdam atau Amsterdam, tapi di centrum Utrecht juga berjejer toko-toko merk ternama, seperti H&M, Zara, Mango, Esprit, you name it, yang kalau di Jakarta cuma dikunjungin sama-sama orang-orang bermobil. Di sini, pengunjungnya kebanyakan ya jalan kaki atau naik sepeda. Berasa sekali atmosfir vintage­-nya. Hehehe.

Jalan-jalan hari itu ditutup dengan nongkrong dekat Dom Tower yang letaknya nggak jauh dari main hall Utrecht University. Well, biarpun cuma sendiri dan cuma keliling centrum, tapi jalan-jalan hari itu lumayan me-refresh otak :D

Dom Tower : bangunan tertinggi di Utrecht

Main Hall Universiteit Utrecht. Saat ini, hanya dipakai untuk prosesi2 penting, seperti kelulusan.


Lambang dan Slogan Universiteit Utrecht

Ada satu sih yang belum kesampaian, berburu bukunya Pramudya Ananta Toer yang Dutch Version. Tiga toko buku di Centrum Utrecht nggak ada satupun yang punya stok-nya. Masih nyari-nyari nih, book-store yang koleksi-koleksi klasiknya lengkap gitu di mana ya? :D




Tidak ada komentar:

Posting Komentar