Kamis, 23 Juli 2015

Mengurus Visa Schengen di Kedubes Belanda




Selama ini, saya sering mendengar cerita tentang sulitnya mengurus visa, apalagi untuk ke negara-negara barat, termasuk Uni Eropa. Nggak bisa dipungkiri, ada rasa khawatir. Maklum, gara-gara sibuk UAS, saya berencana membuat visa mepet waktu keberangkatan. Kalau ternyata visa saya ditolak, yah wassalam, gak ada waktu buat apply ulang. Sebab, tiket sudah di-book tanggal 18 Juli, sementara saya baru bisa apply visa tanggal 7 Juli. Padahal, proses approval-nya sendiri memakan waktu satu mingguan (info yang saya dapat waktu itu :D ).Namun setelah browsing dan tanya sana-sini, cerita itu sepertinya tidak berlaku di Kedutaan Besar Belanda. Kedubes ini terkenal relatif mudah memberikan visa Schengen, makanya banyak orang yang mau berkunjung ke Uni Eropa memilih apply visa di sini. 


Awal Ramadhan sebenarnya saya ada waktu libur satu minggu di kampus. Minggu tenang menjelang ujian. Tapi karena sudah ada info melegakan bahwa jarang kedubes Belanda menolak visa, sayapun memutuskan tidak akan memakai minggu tenang itu untuk mengurus visa. Biar diselesaikan satu-persatu :D. Setelah UAS kelar, beban sudah berkurang, baru fokus ke visa. Dengan pengaturan waktu seperti ini, setidaknya secara kasat mata saya kelihatan jadi abdi negara baik-baik yang tidak melalaikan amanat tugas belajar di kampus yang sedang saya emban (bold and underlined : kasat mata doang :P . Plis jangan tanya hasil UASnya gimana wkwk).




Kembali ke topik. Tanggal 7 Juli pun tiba. Saat itu saya sudah ada di Cirebon, rumah orang tua saya. Selepas sahur dan solat Subuh, Bapak langsung mengantarkan saya ke stasiun. Jam 6 pagi kereta berangkat. Sekitar jam 9 pagi, saya sudah sampai di Gambir. Dari Gambir, saya mampir dulu ke kantor Neso Indonesia di Menara Jamsostek, Gatot Subroto untuk bertemu dengan mbak Rosa dan mengambil kelengkapan dokumen yang telah disiapkan olehnya. Jadi, sebenarnya apa aja sih kelengkapan dokumen yang dibutuhkan untuk mengajukan visa Schengen? Untuk visa kunjungan singkat (kurang dari 90 hari) seperti yang saya ajukan tidak terlalu ribet koq. Ini dia list-nya :

1.       Passport asli + Copy

2.       Foto berwarna (Dimensi dan resolusi ditentukan. Lebih aman foto langsung di kedutaan, bayar Rp 50 ribu)

3.       Letter of Acceptance dari kampus yang dituju (di surat ini tercantum juga pernyataan bahwa akomodasi kita sudah disediakan)

4.       Tiket Jakarta-Amsterdam (PP)

5.       Asuransi perjalanan

6.       Awarding Letter dari Neso Indonesia

7.       Formulir pendaftaran yang telah diisi lengkap



Sekitar jam 11 siang, saya baru meluncur ke Kedutaan Besar Belanda yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor Neso. Oh ya, salah satu hal menyenangkan pergi ke Belanda dengan disponsori Neso adalah kita tidak perlu membuat janji online terlebih dahulu untuk membuat visa dengan pihak kedutaan. Tinggal datang saja langsung. Begitu sampai di security kedutaan, langsung diperbolehkan masuk dan dokumen saya diberi label “orange carpet” yang artinya jalur khusus untuk organisasi-organisasi di bawah kedutaan Belanda, salah satunya Neso Indonesia.



Proses wawancara di Kedutaan juga ternyata tidak menyeramkan. Petugasnya hanya bertanya apa yang akan saya lakukan di Belanda, di mana saya akan tinggal, serta jenis visa apa yang ingin saya ajukan : apakah Schengen (berlaku di Uni Eropa) atau Benelux (hanya berlaku di Belgia, Belanda, dan Luxemburg. Setelah itu,sidik jari saya diambil dan kelengkapan dokumen diperiksa. Then, approved. Gampang banget ternyataaaa saudara-saudara :D Saya kemudian diberikan bukti pendaftaran, lalu diinformasikan bahwa visa bisa diambil tanggal 9 Juli pukul 15.00 WIB . Tidak sampai seminggu, lebih cepat dari dugaan awal. Visa jalur orange carpet tidak dikenakan biaya. Kalau visa umum, biayanya 60 Euro yang wajib dibayar tunai dengan mata uang Rupiah (waktu itu saya lihat orang-orang bayar Rp 900 ribu).


Nah, masalah ternyata justru datang pas proses pengambilan visa. Bukan, bukan dari pihak Kedutaan, tapi dari pihak saya -____-.


Jadi, ceritanya, pihak Neso jauh-jauh hari sudah menawarkan bahwa proses pengambilan visa bisa diwakilkan oleh mereka. Daripada bolak-balik Cirebon-Jakarta, saya iyakan tawaran itu. Informasi awal, dokumen yang dibutuhkan untuk pengambilan visa hanya Surat Kuasa. Hari Rabu, tanggal 8 Juli saya email Surat Kuasa itu ke mbak Rosa. Rencana pertama, jika visa sudah ada di Neso saya minta tolong dikirimkan ke Cirebon via ekspedisi. Tetapi, suasana menjelang lebaran begini, ekspedisi biasanya overload. Risiko visa saya nyangkut di jalan besar bangeet. Wong dari awal Ramadhan aja saya pesan buku online dari Bogor ke Purwokerto sempat nyangkut di Semarang dan sampai sekarang belum jelas kelanjutannya (tjurhat :3 ), apalagi ini yang udah H-10. Rencana pun diubah. Saya minta tolong teman kantor saya di Jakarta (Ditaaa, thanks a lot  ya dit :* ). Rencananya, kalau visa sudah di Neso, saya minta tolong Dita booking-in gojek buat jemput visa itu. Lalu, visa ini akan dibawa oleh Dita saat dia mudik. Kebetulan, dia mudik naik kereta ke arah Jawa Tengah. Kereta ini kan nantinya berhenti di Stasiun Cirebon lumayan lama. Nah, di stasiun Cirebon inilah rencananya nanti kita ketemuan. Terlihat seperti sebuah rencana yang sangat sempurna, sayapun tenang-tenang saja menunggu hari Senin saat Dita mudik.


Bagaimanapun, Allah penentu segalanya. Di detik-detik akhir, hari Senin sekitar jam 3 sore, pihak Neso menelepon mengabarkan bahwa mereka ditolak oleh pihak Kedutaan karena tidak membawa bukti pendaftaran saya. Yup, ternyata selain surat kuasa, bukti pendaftaran adalah dokumen yang wajib dilampirkan untuk mengambil visa. Dan parahnya, bukti pendaftaran itu harus asli, nggak boleh hasil scan. Doeeeeng, terus gimana ini? Mbak Rosa menyarankan saya untuk mengirimkan bukti pendaftaran itu dengan ekspedisi kilat saja. Saya yang awalnya hopeless dengan ekspedisi, sore itu akhirnya langsung ngibrit ke counter-counter ekspedisi. Pilihan saya antara JNE atau Tiki. Ternyata dua-duanya dalam kondisi menjelang lebaran tidak ada yang berani menjamin paket saya bisa sampai di Jakarta besok. Udah mau nangis rasanya T____T. Sayapun langsung mengabarkan Dita membatalkan rencana sebelumnya. Dita waktu itu bilang, “Mbak Ari juga mau koq mbak dititipin. Dia mudik Rabu,naik kereta juga”. Aaah, jadi terharu. Walaupun nggak jadi, makasih yaa Dita dan Mbak Ari :* .


Dan Bapak, lagi-lagi menjadi hero saya dalam kondisi terjepit seperti ini. Bapak bilang biar beliau saja yang mengantarkan dokumennya. Saya bilang, “Naik apa, pak? Tiket kereta yang ke Jakarta sih kayaknya masih gampang dicari. Tapi kalo tiket pulangnya susah. Ini kan udah arus mudik”.


Bapak waktu itu menjawab, “Gampang, naik bis aja.”


Jujur, saya nggak tega. Tahu sendiri jalur Pantura musim arus mudik ini seperti apa. Tapi saya mau pergi sendiri juga lebih dilarang sama Bapak dan Ibu. Ya udahlah, saya nyerah, minta tolong Bapak. Saya lalu booking-kan tiket Bapak untuk ke Jakarta. Sesuai perkiraan, masih banyak kursi kosong. Selesai booking, saya iseng cek yang arah Jakarta-Cirebon. Ternyata penuh semua, hiks. Saya kemudian bergerilya ke lapak Jual Beli mantan kampus saya di facebook karena saya lihat banyak yang posting ingin melepas tiketnya, entah karena dapat dobel atau bagaimana. Paass,ada satu yang jadwalnya cocok. Saya langsung hubungi si pemosting. Eh, belum rezeki, ternyata itu tiket udah dibeli orang lain, padahal dia posting baru beberapa jam. Perebutan tiket kereta memang menggila di musim mudik -__-. Belum mau menyerah, saya tetap stand-by memantau aplikasi KAI di HP saya, siapa tahu tiba-tiba ada yang membatalkan sehingga ada kursi kosong kembali. Alhamdulillah, rezeki-nya Bapak, agak malaman saya berhasil dapat kereta Jakarta-Cirebon. Fiuuuh, lega deh kalau Bapak sudah dapat tiket kereta pulang-pergi, jadi gak perlu macet-mcetan di bis :D .

        Dan alhamdulillah, drama selesai sampai di sini. Keesokan harinya, Bapak pergi ke Jakarta, visa bisa diambil dengan lancar, dan malam hari visa udah di tangan saya. Makasih paaaak :) .

1 komentar:

  1. Hallo kak, aku juga juli nanti ikut summer school utrecht 2017. Kak aku kan udah minta LoA through email, tapi balasannya sampai 3 hari ini belum ada malah seperti dilempar ke bagian informasinya. Saya email lagi reply nya bukan berbentuk dokumen tapi tetep ke staff request gitu. Boleh aku liat LoA kakak. kalo masih ada kirim ya kak ke email ku syifa.sk@gmail.com biar aku bisa lihat. Terima kasih

    BalasHapus