Jumat, 31 Juli 2015

Berburu Makanan Halal di Belanda

Khusus yang beragama Islam, ketika pengen hidup di negara yang bukan mayoritas Islam, entah itu untuk melanjutkan studi, bekerja, atau mungkin pindah kewarganegaraan karena dilamar orang luar (uhuk.. :p), salah satu hal yang membuat galau biasanya adalah bagaimana mencari makanan halal di sana. Kegalauan yang sama sempat mendera saya sebelum berangkat ke Belanda. Seperti yang saya ceritakan di sini, saya sempat berpikir untuk membawa banyak bahan makanan dari tanah air. Tapi rencana itu saya urungkan karena males bayar over-baggage.

Sampai di sini, alhamdulillah, ternyata nggak terlalu susah untuk menemukan makanan halal. Walaupun tentu, nggak sebanyak pilihan di Indonesia. Nah, di sini saya mau berbagi tips-tipsnya gimana mencari makanan halal di Belanda :)

Kebetulan, di tempat saya tinggal sekarang ada fasilitas dapurnya. Jadi, saya nggak harus selalu makan di luar. Saya tipe orang yang nggak suka ribet dalam hal makan. Karena itu, walaupun di sini dapat dapur dengan fasilitas yang ultra-lengkap, bahan makanan yang saya masak tetep aja standar anak kos-kosan :P Nah, belanja bahan-bahan untuk masaknya juga nggak perlu jauh-jauh karena di dalam kompleks universitas ada minimarket yang lumayan lengkap.

Bagian depan minimarket di kampus

Paket Hemat : pengertian banget ama kantong mahasiswa :P
Salah satu sudut di bagian dalamnya


Nggak cuma menjual makanan kering, minimarket itu juga menjual aneka daging, sayuran, dan buah-buahan. Dari awal datang, saya udah komit untuk menghindari segala jenis daging, nggak cuma babi, tetapi juga ayam, sapi, maupun kambing. Sebab, kalau yang dijual di minimarket seperti itu, saya yakin proses penyembelihannya tidak memenuhi standar ajaran Islam...

Pilihan yang aman adalah telur dan ikan sarden kalengan. Untuk telur, harganya nggak terlalu mahal koq... 10 butir harganya 2,15 Euro (per butir sekitar Rp 3 ribuan). Kalau anak kosan di Indonesia masak telur menjadi dadar, di sini namanya jadi omelette. Tuh... makan telur aja udah sama dengan seleranya orang bule kan :P Dijamin halal pula! Sementara kalau sarden, saya bawa beberapa kaleng dari Indonesia. Kalau nanti habis, di sini juga tersedia... Walaupun, ehemm, saya nggak yakin rasa sambelnya semantap yang saya bawa. Hehehe, bener ternyata, rasa sambel negara kita masih lebih juara!

Yang paliiiing saya kangenin di sini adalah nasi. Belum ketemu minimarket yang jual beras di dekat sini :( . Jadi untuk makanan pokok, saya menggantinya dengan pasta, roti, sereal gandum, atau kentang (gonta-ganti biar gak bosen, maklum gak biasa :p ). Untuk kentang, saya beli yang udah potongan, tinggal digoreng atau dioven aja. Harganya juga murah meriah, 1,29 Euro (Rp 19 ribu) dapat 1 kilo kentang. Lebih baik pilih kentang yang plain alias yang belum dibumbuin karena kalo udah dibumbuin ada risiko penyedapnya itu nggak halal :) . Untuk pasta, roti, ataupun sereal juga harus hati-hati. Berhubung di sini nggak ada logo halal, kita harus pelototin satu per satu komposisinya. Tenang saja, semua makanan kemasan di sini komposisinya tertulis lengkap koq ;) Negara-negara di Uni Eropa memang terkena aturan wajib untuk mencantumkan semua komposisi bahan makanannya. Mereka juga punya kode standar untuk bahan-bahan tambahan dalam pangan. Sebagai orang awam, tentu saya nggak ngerti makna kode-kode itu. Tapi alhamdulillah, dengan merujuk pada situs special.worldislam.info , saya jadi dapat list bahan makanan apa saja yang sebaiknya dihindari. Andai masih bingung juga, jangan segan untuk bertanya. Shopkeeper di Belanda rata-rata informatif koq. Mereka sangat menghargai umat muslim di sini, dan bersedia memberikan informasi apa adanya. Kalau mereka nggak tahu itu halal atau nggak, mereka akan bilang dengan sopan bahwa mereka nggak tahu, lalu kemudian mengarahkan kita untuk mengontak langsung costumer service produsennya. Budaya keterbukaan informasi kayak gini nih yang bikin saluuuttt bangeet.

Sayur-sayuran seperti jamur, tomat, dan lain-lain mah aamaaaan untuk dibeli. Buah-buahan juga aman, sepanjang bukan yang kalengan (kalo kalengan, cek dulu bahan tambahannya yah). Susu cair juga setahu saya aman, asal ya itu tadi, pilih yang plain, bukan yang rasa cokelat dan kawan-kawan.

Nah, untuk bumbu-bumbu, saya sih lebih prefer bawa bumbu instant dari Indonesia aja.. Toh nggak berat :D . Dengan begini, kita nggak perlu melototin komposisi di bumbu-bumbu karena udah ada logo halalnya. 

Saya masak hanya untuk makan pagi dan makan malam. Menu makan pagi saya biasanya sereal + susu cair + roti croissant. Praktis, hahaha. Tapi kenyang karena roti croissant di sini besar-besar. Untuk makan malam, variasiin aja. Kadang pasta sama sarden. Kadang kentang sama omelette. Kadang roti sama omelette. Alhamdulillah, masih bisa bertahan tanpa nasi :P .

Sarapan :D Iyaaa, croissant-nya overcooked -,- Teh bawa dari Indonesia :D


Sebenarnya, di minimarket itu juga dijual nasi siap santap sih. Ada 2 pilihan, nasi goreng atau nasi dengan sate ayam. Semuanya udah dikemas, tinggal dipanaskan di microwave aja sebelum dimakan. Tapi ya itu tadi, berhubung ada ayamnya, saya pilih untuk nggak beli.

Untuk makan siang, saatnya sedikit memanjakan lidah, hehehe.... Nggak jauh kelas, kebetulan ada kafe kecil halal milik orang Turki. Menu-menunya sih standar ya, hamburger dan kebab, tapi dagingnya dijamin halal :) . Harganya pun sama dengan kafe-kafe di sebelahnya, antara 2-4 Euro, tergantung isian dan size-nya. Kalau bosen dengan hamburger atau kebab, ada juga satu restaurant halal yang menjual aneka menu kari. Special thanks untuk mbak Imairi yang pertama kali ngajakin aku ke restaurant ini... :) Di sini, harga makanannya antara 6-7 Euro. Tapi porsinya, super besaaarrrr, buat saya sih bisa dimakan 2x. Biar gak rugi, mending take away kalo makan di sini hahaha.

Salah satu cafe halal langganan. Dapurnya terbuka lho :D Kita bisa liat bahan mentahnya


Kebab

Saat ke luar kota Utrecht, saya kemarin pilih makan aneka menu berbahan seafood, seperti yang saya ceritain di sini . Sama seperti kalau kita belanja di supermarket, saat makan di restoran Belanda pun jangan pernah sungkan untuk bertanya terkait bahan makanan dan cara memasaknya. Mereka di sini sangat menghargai dietary requirements tiap individu. Dietary requirements ini nggak cuma terkait masalah agama saja, tetapi juga jika kita menganut pola makan tertentu, atau alergi makanan tertentu, kita tinggal sampaikan, dan para pelayannya akan dengan senang hati merekomendasikan menu yang sesuai dietary requirements kita. Asyiiik kan? :)

Do you have any food allergies? Please tell us ! (Tulisan semacam ini hampir selalu saya temui di buku menu kafe2 di sini)

Kalo lagi pengen minuman hangat, entah cokelat atau kopi, yang murah meriah bisa beli di mesin kopi kayak gini :D

Kopinya bu... Kopinya pak... One Euro... One Euro.... 

Selain di mesin kopi, ada banyak juga kafe yang khusus menjual minuman ringan, tanpa minuman keras :D Jangan salah masuk yaaa.... Kalo liat bacaan coffee shop, itu artinya kafe yang jualan ganja (yup, ganja legal di sini). Kalo mau cari kopi, carilah di cafe atau bar (yang namanya bar di sini gak selalu menyajikan minuman keras). Harga kopi di kafe agak lebih mahal. Yang small size antara 2-3 Euro, yang regular size bisa sampai 4 Euro.

Ngopi2 cantik sambil pura-pura belajar :P

Alhamdulillah, Allah permudah segalanya. Bertemu dengan orang-orang yang helpful dan sangat menghargai keyakinan individu. Ditambah juga dengan aneka teknologi yang sedikit banyak membantu. Misal, ada aplikasi kamus bahasa Belanda yang mempermudah saya memahami arti komposisi di kemasan makanan. Ada pula mbah google yang siap menjadi petunjuk letak restoran halal. Hidup sebagai minoritas alhamdulillah bukan sebuah hal yang menyeramkan ternyata :)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar